Oleh: apt. Eva Nurinda, M.Sc

Di zaman sekarang, hampir semua hal bisa kita lakukan hanya dengan satu sentuhan jari. Pesan makanan, bekerja, hingga

 mencari hiburan, semuanya tersedia lewat layar ponsel atau laptop. Namun, di balik kemudahan teknologi ini, ada ancaman kesehatan yang mengintai kita semua: Sedentary Lifestyle atau pola hidup sedenter.

Apa itu Sedentary Lifestyle?

Secara sederhana, sedentary lifestyle adalah pola perilaku di mana seseorang sangat minim melakukan aktivitas fisik dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk atau berbaring (di luar waktu tidur). Istilah populernya adalah “mager” atau malas gerak.

Teknologi adalah pedang bermata dua. Kemajuan teknologi memang mempermudah hidup, namun juga membuat kita terjebak dalam lingkaran diam. Dahulu, bermain berarti berlari di lapangan, belanja berarti berjalan ke pasar. Namun sekarang hiburan berpindah ke media sosial dan streaming video, belanja cukup dari tempat tidur. Perubahan ini tidak hanya menyerang satu kelompok usia, tapi sudah merambah ke seluruh generasi:

Alih-alih bermain di luar, banyak anak kini lebih betah menatap layar (screen time) berjam-jam. Dampaknya? Risiko obesitas sejak dini, gangguan postur tubuh, dan menurunnya kemampuan interaksi sosial secara langsung. Bagi pekerja kantoran, tuntutan pekerjaan seringkali memaksa mereka duduk di depan komputer selama 8–10 jam sehari. Kurangnya aktivitas fisik ini seringkali diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi gula saat bekerja.

Dampak jangka panjang dari gaya hidup ini adalah “bom waktu” kesehatan. Mengapa kita harus peduli? Karena tubuh manusia didesain untuk bergerak. Ketika kita berhenti bergerak, metabolisme tubuh melambat, dan risiko penyakit serius meningkat secara drastis.Kurangnya gerak merupakan pemicu utama terjadinya masalah kesehatan serius di masa depan, seperti:

  • Diabetes Mellitus Tipe 2: Saat otot jarang digunakan, tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin (resistensi insulin). Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan memicu diabetes.
  • Penyakit Jantung dan Hipertensi: Kurang gerak menyebabkan aliran darah tidak lancar dan penumpukan lemak di pembuluh darah.
  • Gangguan Sendi dan Tulang: Kurangnya kepadatan tulang dan melemahnya otot penyangga tubuh.

Tahukah Anda? Risiko terkena penyakit degeneratif seperti diabetes tidak lagi hanya dialami oleh lansia. Kini, semakin banyak orang di usia produktif (30-an) yang sudah terdiagnosa akibat pola hidup tidak sehat sejak remaja.

Bagaimana Cara Melawannya?

Kita tidak perlu meninggalkan teknologi, namun kita perlu membangun keseimbangan. Berikut adalah langkah kecil yang bisa Anda mulai hari ini:

  1. Aturan 60/5: Setiap duduk selama 60 menit, sempatkan berdiri atau melakukan peregangan selama 5 menit.
  2. Gunakan Tangga: Pilih tangga manual daripada lift jika hanya naik 1–2 lantai.
  3. Target Langkah Harian: Gunakan fitur pedometer di ponsel Anda untuk mencapai target minimal 7.000–10.000 langkah sehari.
  4. Batasi Screen Time: Tentukan waktu maksimal untuk media sosial atau gaming, dan isi waktu sisanya dengan hobi yang melibatkan fisik.

Teknologi seharusnya meningkatkan kualitas hidup kita, bukan justru merusak kesehatan kita secara perlahan. Dengan bergerak lebih banyak hari ini, kita sedang berinvestasi untuk masa tua yang bebas dari ketergantungan obat-obatan.

MARI BERGERAK, KARENA TUBUHMU ADALAH ASET PALING BERHARGA.

Daftar Referensi

  1. World Health Organization (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization.
  2. Wilmot, E. G., Edwardson, C. L., Achana, F. A., et al. (2012). “Sedentary time in adults and the association with diabetes, cardiovascular disease and death: a systematic review and meta-analysis.” Diabetologia, 55(11), 2895-2905.
  3. Hamilton, M. T., Hamilton, D. G., & Zderic, T. W. (2007). “Role of Low Energy Expenditure and Sitting in Generating the Metabolic Syndrome of Sedentary Behavior.” Diabetes, 56(11), 2655-2667.
  4. Tremblay, M. S., LeBlanc, A. G., Kho, M. E., et al. (2011). “Systematic review of sedentary behaviour and health indicators in school-aged children and youth.” International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 8(1), 98.
  5. Stamatakis, E., Ekelund, U., Ding, D., et al. (2019). “Is the time right for quantitative public health guidelines on sitting? A narrative review of sedentary behaviour research paradigms and recommendations.” British Journal of Sports Medicine, 53(6), 377-382.
  6. Ratey, J. J., & Hagerman, E. (2008). Spark: The Revolutionary New Science of Exercise and the Brain. Little, Brown Spark.
  7. Vina, J., Sanchis-Gomar, F., Martinez-Bello, V., & Gomez-Cabrera, M. C. (2012). “Exercise acts as a drug; the pharmacological benefits of exercise.” British Journal of Pharmacology, 167(1), 1-12.

Kementerian Kesehatan RI (2018).Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.