apt. Diki Aprianto A., S.Farm., M.Clin.Pharm., FISQua.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) sering dipersepsikan sebagai keluhan ringan berupa “asam lambung naik” yang dapat diatasi dengan konsumsi obat sesaat. Pandangan ini membuat banyak orang, khususnya usia produktif dan generasi muda, cenderung mengabaikan gejala yang muncul. Padahal, dari sudut pandang ilmiah dan klinis, GERD merupakan penyakit kronis yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak dikelola secara tepat. GERD terjadi ketika asam lambung berulang kali naik ke kerongkongan akibat gangguan fungsi sfingter esofagus bawah. Paparan asam yang bersifat korosif ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat menimbulkan kerusakan mukosa esofagus secara progresif tanpa disertai gejala yang jelas pada tahap awal.
Secara klinis, kerusakan akibat GERD sering berkembang secara perlahan. Gejala awal seperti rasa panas di dada (heartburn) atau nyeri ulu hati kerap dianggap sepele dan ditangani secara mandiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi esofagitis erosif yang disertai perdarahan saluran cerna bagian atas. Perdarahan berat yang tidak tertangani dengan cepat berpotensi menyebabkan anemia akut, syok hipovolemik, dan pada kondisi tertentu dapat berujung pada kematian. Selain itu, iritasi kronis akibat asam lambung dapat memicu perubahan sel epitel esofagus menjadi Barrett’s esophagus, yaitu kondisi prakanker yang secara signifikan meningkatkan risiko kanker esofagus, suatu keganasan dengan tingkat mortalitas yang tinggi karena sering terdiagnosis pada stadium lanjut.
GERD juga memiliki dampak sistemik yang melampaui saluran cerna. Refluks asam yang terjadi saat tidur dapat teraspirasi ke saluran pernapasan dan menyebabkan pneumonia aspirasi. Infeksi paru ini dapat berkembang menjadi gagal napas dan sepsis, terutama pada individu dengan faktor risiko tertentu. Di sisi lain, nyeri dada akibat GERD sering kali sangat menyerupai nyeri dada kardiak. Kondisi ini berbahaya karena dapat menunda diagnosis dan penanganan penyakit jantung yang sebenarnya. Keterlambatan tersebut berpotensi memperburuk luaran klinis, bahkan meningkatkan risiko kematian akibat gangguan kardiovaskular yang tidak tertangani tepat waktu.
Pada kalangan usia produktif, termasuk mahasiswa dan generasi muda, GERD menjadi semakin relevan seiring dengan pola hidup modern. Kebiasaan makan tidak teratur, konsumsi kopi dan minuman asam berlebihan, stres akademik, kurang tidur, serta kebiasaan berbaring setelah makan merupakan faktor risiko utama terjadinya GERD sejak usia muda. Jika faktor-faktor ini tidak dikendalikan, GERD dapat berlangsung kronis dan menimbulkan akumulasi kerusakan yang baru dirasakan dampaknya di kemudian hari, saat komplikasi sudah cukup berat.
Oleh karena itu, GERD tidak dapat dipandang sebagai penyakit ringan. Diperlukan kesadaran dini terhadap gejala, perubahan gaya hidup yang berkelanjutan, serta penggunaan obat yang rasional dan terpantau. Dalam konteks pendidikan dan praktik kefarmasian, pemahaman komprehensif mengenai GERD menjadi sangat penting agar calon apoteker mampu berperan aktif dalam edukasi pasien, deteksi gejala alarm, optimalisasi terapi, serta pencegahan komplikasi serius, termasuk gangguan jantung dan kondisi yang berpotensi mengancam nyawa.