apt. Ari Susiana Wulandari, M.Sc.
Dexamethasone adalah obat kortikosteroid sintetik (buatan) yang sangat kuat (poten). Ia bekerja dengan meniru hormon alami tubuh yang disebut kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Dexamethasone dikategorikan sebagai Obat Keras (ditandai dengan lingkaran merah huruf K). Ini berarti obat ini memiliki efek biologis yang kuat dan hanya boleh didapatkan serta digunakan dengan resep dokter. Ia memiliki efek anti-inflamasi (anti-radang) dan imunosupresan (penekan sistem imun) yang jauh lebih kuat dibandingkan kortisol alami tubuh.
Dexamethasone adalah obat golongan kortikosteroid yang sangat kuat (highly potent) dan bekerja dalam jangka waktu lama (long-acting) dengan aktivitas glukokortikoid.
Obat ini bertindak sebagai agen anti-inflamasi (anti-peradangan) dengan cara kerja spesifik meliputi:
- Menekan migrasi neutrofil: Mencegah sel darah putih tertentu (neutrofil) berpindah ke area peradangan.
- Menurunkan produksi mediator inflamasi: Mengurangi zat-zat kimia di dalam tubuh yang memicu dan memperparah peradangan.
- Memulihkan permeabilitas kapiler: Membalikkan keadaan pembuluh darah kapiler yang sebelumnya terlalu permeabel (bocor) akibat peradangan.
- Menekan respons imun: Mengurangi aktivitas berlebih dari sistem kekebalan tubuh.
Fungsi utamanya adalah untuk mengatasi peradangan berat, reaksi alergi parah, penyakit autoimun, dan kondisi medis tertentu seperti pembengkakan otak (edema serebral) atau badai sitokin pada kasus COVID-19 berat
Secara medis, pasien yang direkomendasikan menggunakan deksametason adalah mereka dengan kondisi:
- Penyakit Autoimun (Lupus/ SLE, Rheumatoid Arthritis).
- Serangan asma berat atau PPOK eksaserbasi.
- Reaksi alergi parah (syok anafilaktik).
- Pasien kanker tertentu (untuk mengurangi mual atau pembengkakan).
- Pasien COVID-19 derajat berat/kritis yang membutuhkan oksigen.
Kelompok yang harus sangat berhati-hati atau menghindari obat ini adalah
- Penderita infeksi jamur sistemik (karena imun ditekan, jamur akan menyebar).
- Penderita diabetes (obat ini menaikkan gula darah drastis).
- Penderita hipertensi dan gagal jantung.
- Penderita tukak lambung aktif.
- Ibu hamil (risiko pada janin) dan anak-anak (gangguan pertumbuhan), kecuali dengan pertimbangan dokter spesialis.
Penggunaan kortikosteroid (terutama dalam dosis tinggi dan jangka panjang) dapat menimbulkan berbagai efek samping pada sistem tubuh, antara lain:
- Perubahan Fisik & Metabolisme: Menyebabkan moon face (wajah membulat), penumpukan lemak di perut dan wajah, stretch mark ungu, mudah memar, serta risiko gula darah tinggi (hiperglikemia/diabetes).
- Masalah Otot dan Tulang: Terjadi penyusutan dan kelemahan otot, serta risiko pengeroposan tulang yang parah (osteoporosis).
- Masalah Jantung & Elektrolit: Penumpukan cairan tubuh (bengkak), kadar kalium rendah (hipokalemia), dan tekanan darah tinggi (hipertensi).
- Gangguan Kelenjar Adrenal: Menekan fungsi alami kelenjar adrenal. Jika obat dihentikan tiba-tiba, tubuh akan kekurangan hormon stres yang fatal. Obat harus dihentikan perlahan (tapering off) dan butuh waktu lama untuk pulih.
- Risiko Infeksi Tinggi: Menurunkan sistem kekebalan tubuh, membuat pasien mudah sakit. Gejala infeksi sering tidak terlihat, dan infeksi lama (seperti TBC) bisa kambuh kembali.
- Komplikasi Lain: Risiko gangguan kejiwaan (psikosis), masalah penglihatan (katarak dan glaukoma), serta luka pada lambung (ulkus peptikum).
Cara Penggunaan Dexamethasone yang Benar
- Dosis harus disesuaikan oleh dokter berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Prinsip utamanya adalah menggunakan dosis efektif terendah.
- Durasi menggunakan obat tersebut yaitu dalam waktu sesingkat mungkin untuk mengatasi peradangan akut.
- Selama obat dikonsumsi dalam penggunaan jangka panjang, pasien perlu rutin memeriksakan tekanan darah, kadar gula darah, kepadatan tulang, dan fungsi mata (risiko katarak/glaukoma).
Jika seseorang telah menggunakan Dexamethasone secara rutin dan tidak boleh dihentikan secara mendadak, namun wajib diturunkan dosisnya secara bertahap (tapering off) dan tidak boleh dihentikan mendadak jika :
- Digunakan dalam jangka panjang (biasanya lebih dari 1–2 minggu berturut-turut).
- Digunakan dalam dosis tinggi, meskipun durasinya relatif singkat.
- Pasien memiliki riwayat masalah pada kelenjar adrenal. Penghentian mendadak dapat memicu krisis adrenal (insufisiensi adrenal akut) yang berbahaya karena tubuh tidak punya cukup waktu untuk kembali memproduksi hormon kortisol secara alami.
Apoteker berada di garda terdepan di apotek, klinik, puskesmas, rumah sakit di lingkungan masyarakat. Perannya meliputi skrining resep dokter, menolak penjualan obat keras tanpa resep, serta memberikan konseling langsung kepada pasien mengenai cara minum, efek samping, dan bahaya menghentikan obat mendadak. Tanyalah kepada apoteker sebelum anda mengkonsumsi obat.