Oleh : apt. Ifa Aris Suminingtyas, M.Farm.

Penggunaan obat yang tepat merupakan kunci utama dalam keberhasilan terapi dan keselamatan pasien. Namun, dalam praktik sehari-hari, masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan dalam penggunaan obat, baik secara sengaja maupun tidak disadari. Padahal, kesalahan ini dapat berdampak serius, mulai dari terapi yang tidak efektif hingga risiko efek samping berbahaya. Fenomena ini dikenal sebagai medication error, yaitu kesalahan dalam proses penggunaan obat yang sebenarnya dapat dicegah dan dapat merugikan pasien.

Berikut adalah 5 kesalahan umum penggunaan obat yang masih sering terjadi di Masyarakat :

1. Tidak Mengikuti Aturan Pakai Obat

Banyak pasien tidak mematuhi aturan penggunaan obat, seperti :

  • Tidak tepat waktu minum obat
  • Mengurangi atau menambah dosis sendiri
  • Menghentikan obat sebelum waktunya

Padahal, ketidakpatuhan ini dapat menyebabkan terapi tidak efektif bahkan memperburuk kondisi penyakit. Kesalahan pada tahap penggunaan (administration error) termasuk yang sering terjadi dalam praktik Kesehatan. Contohnya pasien berhenti minum obat antibiotic karena sudah merasa sembuh, hal ini berisiko resistensi antibiotik

2. Menggunakan Obat Tanpa Konsultasi dengan Tenaga Kesehatan

Praktik self-medication (swamedikasi) memang umum, tetapi sering dilakukan tanpa informasi yang benar. Kesalahan yang sering terjadi yaitu :

  • Menggunakan obat berdasarkan saran teman atau keluarga
  • Menggunakan resep lama untuk penyakit baru
  • Membeli obat keras tanpa resep

Hal ini dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak rasional dan meningkatkan Risiko efek samping.

3. Tidak Membaca atau Memahami Label Obat

Banyak pasien mengabaikan informasi penting pada kemasan obat, seperti :

  • Dosis
  • Cara penggunaan
  • Interaksi obat
  • Efek samping 

Penelitian menunjukkan bahwa kesalahan pada tahap dispensing sering berkaitan dengan informasi obat yang tidak lengkap atau tidak dipahami pasien. Contoh : ada obat tertentu yang harus diminum pada saat perut kosong, tetapi diminum saat sesudah makan, hal ini dapat menyebabkan adanya interaksi obat dengan makanan yang dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

4. Menggunakan Obat yang tidak Sesuai (Salah Obat atau Salah Indikasi)

Kesalahan ini bisa terjadi karena :

  • Salah memahami gejala
  • Salah memilih obat
  • Menyamakan penyakit yang berbeda

Medication error dapat terjadi sejak tahap penulisan resep hingga penggunaan obat oleh pasien. Contoh : Menggunakan antibiotik untuk flu, hal ini tidak efektif dan berbahaya dalam jangka panjang karena penyebab flu adalah virus bukan bakteri.

5. Tidak menyimpan Obat dengan Benar

Penyimpanan obat yang tidak tepat dapat menurunkan kualitas dan efektivitas obat.

Kesalahan umum :

  • Menyimpan obat di tempat panas/lembab
  • Menyimpan obat cair terlalu lama setelah dibuka
  • Tidak memperhatikan tanggal kadaluwarsa

Obat yang rusak atau tidak stabil dapat menyebabkan terapi gagal bahkan membahayakan pasien.

Mengapa kesalahan ini masih terjadi? Ada beberapa faktor penyebab utama antara lain :

  • Kurangnya pengetahuan Masyarakat
  • Komunikasi yang kurang efektif dengan tenaga Kesehatan
  • Kompleksitas penggunaan obat
  • Kebiasaan swamedikasi

Selain itu, faktor sistem, tenaga kesehatan dan pasien juga berkontribusi terhadap terjadinya medication error.

Peran Farmasis dalam mencegah kesalahan oba tantara lain :

  • Memberikan edukasi penggunaan obat
  • Menjelaskan aturan pakai secara jelas
  • Mengidentifikasi potensi kesalahan obat
  • Meningkatkan keselamatan pasien (patient safety)

Tips Bijak Menggunakan Obat

Agar terhindar dari kesalahan obat, masyarakat dianjurkan :

  • Selalu mengikuti aturan pakai
  • Membaca label obat dengan teliti
  • Berkonsultasi dengan farmasis atau dokter
  • Tidak menggunakan obat sembarangan
  • Menyimpan obat sesuai petunjuk

Kesimpulan

Kesalahan penggunakan obat masih menjadi masalah yang sering terjadi di masyarakt dan dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien. Namun Sebagian besar kesalahan ini dapat dicegah melalui edukasi, komunikasi yang baik dan peran aktif tenaga kefarmasian.

Referensi

  1. Tendean, A. C., et al. (2025). Identifikasi Medication Error pada Pelayanan Resep Obat di Puskesmas. Majalah Info Sains
  2. Sari, O. M., et al. (2025). Narrative Review Identifikasi Medication Error di Rumah Sakit Indonesia. 
  3. Tanty, H. N., et al. (2023). Profil Kejadian Medication Error di Instalasi Farmasi RS. Jurnal Komunitas Farmasi Nasional
  4. Adhiningsih, P. D. S., et al. (2023). Analisis Penyebab Medication Error pada Pasien Rawat Inap. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan
  5. Malik, M. (2019). Manajemen Rumah Sakit dalam Pencegahan Medication Error melalui Patient Safety