Oleh : apt. Sri Suprapti,M.Farm
Pemandangan remaja duduk berjam-jam menatap layar gawai sambil menyeruput minuman kekinian yang manis adalah hal yang lumrah di era digital sekarang. Terlihat nyaman dan menyenangkan, bukan? Namun, di balik kenyamanan tersebut, tersimpan ancaman kesehatan serius yang mengintai masa depan generasi muda kita.
Kombinasi gaya hidup kurang gerak (sedentari) dan konsumsi gula berlebih adalah “duet maut” yang mempercepat datangnya penyakit kronis. Mari kita bedah faktanya berdasarkan data dari WHO dan Kemenkes RI.
- Wabah “Mager” (Malas Gerak) Global
Istilah “Mager” bukan sekadar bahasa gaul, tetapi kondisi medis yang disebut Sedentary Lifestyle. Menurut data WHO, lebih dari 80% remaja di seluruh dunia tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup. Remaja kini lebih banyak menghabiskan waktu duduk atau berbaring (saat sekolah, bimbel, bermain game, atau bermedia sosial) dibandingkan bergerak aktif.
Apa Akibatnya?
Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan energi yang masuk tidak terbakar dan menumpuk menjadi lemak. WHO dan Kemenkes memperingatkan risiko jangka panjangnya:
- Obesitas Dini: Penumpukan lemak viseral yang berbahaya.
- Kesehatan Tulang dan Otot Menurun: Masa remaja adalah puncak pertumbuhan tulang. Kurang gerak membuat tulang keropos lebih cepat di masa tua.
- Gangguan Kesehatan Mental: Aktivitas fisik memicu hormon endorfin. Remaja yang kurang gerak terbukti lebih rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan depresi.
Rekomendasi:
WHO merekomendasikan remaja (usia 5-17 tahun) untuk melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat minimal 60 menit setiap hari. Ini bisa berupa berjalan cepat, berlari, bersepeda, atau olahraga permainan.
- Jebakan “Si Manis” (Gula Berlebih)
Minuman boba, kopi susu gula aren, soda, hingga jajanan manis adalah favorit remaja. Padahal, konsumsi gula tambahan yang berlebihan adalah pintu gerbang berbagai penyakit.
Aturan Main Gula:
Kemenkes RI melalui pedoman Gizi Seimbang mengampanyekan rumus G4-G1-L5. Khusus untuk Gula (G4), batas konsumsi harian maksimal adalah 4 Sendok Makan (setara 50 gram) per orang per hari.
Sayangnya, satu gelas minuman manis kekinian saja bisa mengandung lebih dari 50 gram gula. Artinya, dengan satu gelas minuman, jatah gula harian seorang remaja sudah habis, belum termasuk gula dari nasi, lauk, atau camilan lain.
Bahaya yang Mengintai:
- Diabetes Melitus Tipe 2: Dulu penyakit ini dianggap penyakit orang tua. Namun, Kemenkes mencatat tren peningkatan kasus diabetes pada remaja akibat resistensi insulin yang dipicu gula berlebih.
- Kerusakan Gigi: Gula adalah musuh utama kesehatan gigi remaja.
- Penurunan Fungsi Kognitif: Beberapa studi menunjukkan konsumsi gula berlebih dapat memengaruhi daya ingat dan kemampuan belajar.
- Bom Waktu: Penyakit Tidak Menular (PTM)
Ketika gaya hidup sedentary bertemu dengan diet tinggi gula, terjadilah peningkatan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM).
Kemenkes RI terus mengingatkan bahwa PTM seperti Hipertensi, Stroke, Diabetes, dan Penyakit Jantung kini tidak lagi menunggu usia tua. Remaja dengan gaya hidup buruk menabung kerusakan organ sejak dini. Fenomena remaja usia 20-an yang terkena stroke atau gagal ginjal kini semakin sering terdengar.
Apa yang Harus Dilakukan?
Mengubah gaya hidup memang tidak mudah, tapi harus dimulai sekarang. Berikut langkah sederhana berdasarkan anjuran GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat):
- Lawan Mager: Kurangi screen time. Biasakan melakukan peregangan di sela-sela belajar atau bermain game. Cari hobi yang melibatkan fisik seperti futsal, dance, atau sekadar jogging sore.
- Cek Label Kemasan: Sebelum membeli minuman atau camilan, lihat tabel “Informasi Nilai Gizi”. Perhatikan kadar “Gula Total”. Jika angkanya tinggi, berpikirlah dua kali.
- Air Putih adalah Teman Terbaik: Ganti minuman manis dengan air putih yang nol kalori dan menyehatkan ginjal.
- Perbanyak Sayur dan Buah: Serat dalam sayur dan buah membantu mengontrol kadar gula darah.
Masa remaja adalah masa emas. Jangan biarkan masa depanmu terenggut oleh penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Yuk, bergerak lebih banyak dan kurangi manis-manis mulai hari ini!
Referensi:
- World Health Organization (WHO): Physical Activity Guidelines & Sugar Intake Recommendations.
- Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes): Pedoman Gizi Seimbang & Kampanye GERMAS.