apt. Ade Puspitasari, M. Pharm.
Biang keringat atau miliaria merupakan masalah kulit yang sangat umum terjadi di negara tropis seperti Indonesia. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal dapat mengganggu kenyamanan bahkan aktivitas sehari-hari. Biang keringat banyak terjadi pada bayi dan anak, tetapi juga dapat dialami oleh orang dewasa, terutama saat cuaca panas dan lembap atau ketika tubuh berkeringat berlebihan. Oleh karena itu, pemahaman tentang swamedikasi yang tepat menjadi penting agar penanganan dapat dilakukan secara aman dan efektif.

Gambar 1. Penampakan Miliaria crystallina (Yanamandra et al., 2015)
Biang keringat terjadi akibat tersumbatnya saluran kelenjar keringat sehingga keringat terperangkap di bawah kulit dan menimbulkan bintik kecil berwarna merah atau bening, yang sering disertai rasa gatal atau perih. Berdasarkan kedalamannya, biang keringat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti miliaria kristalina (ringan), miliaria rubra (paling sering dan menimbulkan gatal), serta miliaria profunda (lebih jarang). Gejala umum meliputi bintik kecil pada kulit, sensasi panas, dan rasa tidak nyaman, terutama di area leher, punggung, dan lipatan kulit.

Gambar 2. Penampakan Milia rubra (A), Miliaria crystallina (B)(Mayo Clinic, 2022)
Swamedikasi dapat dilakukan pada kondisi ringan tanpa tanda infeksi. Prinsip utamanya adalah mengurangi paparan panas, mencegah sumbatan keringat, serta menjaga kulit tetap bersih dan kering. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memindahkan penderita ke lingkungan yang lebih sejuk dan memiliki ventilasi baik. Selain itu, mandi menggunakan air sejuk dan menghindari sabun yang keras dapat membantu mencegah iritasi lebih lanjut.
Pemilihan pakaian juga berperan penting. Gunakan pakaian longgar berbahan katun agar keringat mudah menguap. Hindari pakaian ketat atau berbahan sintetis yang dapat memperburuk kondisi. Selain itu, penting untuk tidak menggaruk area yang terkena karena dapat menyebabkan iritasi bahkan infeksi sekunder.
Dalam beberapa kasus, penggunaan obat bebas dapat membantu meredakan gejala. Losion kalamin atau produk yang mengandung zinc oxide dapat memberikan efek menenangkan dan mengurangi gatal. Bedak tabur tanpa parfum juga dapat digunakan untuk menjaga kelembapan kulit, namun penggunaannya harus bijak agar tidak menutup pori-pori. Pada kondisi gatal yang mengganggu, antihistamin oral dapat menjadi pilihan, dengan tetap memperhatikan aturan pakai.
Namun demikian, swamedikasi harus dilakukan dengan hati-hati. Penggunaan produk berminyak seperti minyak kayu putih atau balsem sebaiknya dihindari karena dapat menyumbat pori-pori dan memperparah biang keringat. Selain itu, penting untuk membaca label obat dan memahami cara penggunaannya dengan benar.
Segera konsultasikan ke tenaga kesehatan apabila biang keringat tidak membaik dalam beberapa hari, muncul nanah, disertai demam, atau terjadi pada bayi dengan gejala yang memburuk. Penanganan yang tepat akan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Sebagai kesimpulan, biang keringat merupakan kondisi yang umum namun dapat ditangani dengan swamedikasi yang tepat. Dengan menjaga kebersihan, mengontrol suhu lingkungan, serta menggunakan obat secara rasional, biang keringat dapat diatasi secara aman dan efektif. Edukasi yang baik juga menjadi kunci dalam mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Sumber:
Blume-Peytavi, U. et al. (2012) ‘Skin care practices for newborns and infants: review of the clinical evidence for best practices’, Pediatric Dermatology, 29(1), pp. 1–14. Available at: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22011065/ (Accessed: 24 September 2025).
Ernstmeyer, K. and Christman, E. (2021) Nursing Fundamentals. Chippewa Valley Technical College. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK591822/figure/ch10integumentary.F10.1/?report=objectonly (Accessed: 24 September 2025).
Guerra, K., Toncar, A. and Krishnamurthy, K. (2024) ‘Miliaria’, in StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537176/ (Accessed: 24 September 2025).
Kirk, J.F. et al. (1996) ‘Miliaria Profunda’, Journal of the American Academy of Dermatology, 35(5), pp. 854–856. Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.1016/S0190-9622(96)90103-6.
Levin, N.A. (2024) Miliaria Treatment & Management: Medical Care, Activity, Prevention, Medscape. Available at: https://emedicine.medscape.com/article/1070840-treatment (Accessed: 24 September 2025).
Mayo Clinic (2022) Heat rash (miliaria): Symptoms and causes, Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). Available at: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heat-rash/symptoms-causes (Accessed: 24 September 2025).
Palaniappan, V. et al. (2023) ‘Miliaria crystallina’, Clinical and Experimental Dermatology, 48(5), pp. 462–467. Available at: https://doi.org/10.1093/ced/llad032.
Papadatos, S.S. et al. (2023) ‘Water Drops All Over the Skin: Miliaria Crystallina in an Adult Febrile Patient with Glioblastoma’, Maedica – A Journal of Clinical Medicine, 18(3). Available at: https://doi.org/10.26574/maedica.2023.18.3.534.
Vidal, S.I., Menta, N. and Friedman, A. (2025) ‘The Heat Is On: A Review of Heat-Induced Dermatoses’, Journal of Drugs in Dermatology, 24(10), pp. 1072–1081. Available at: https://jddonline.com/articles/heat-on-review-of-heat-induced-dermatoses-S1545961625P10725X (Accessed: 24 September 2025).
Yanamandra, U. et al. (2015) ‘Miliaria crystallina: relevance in patients with hemato-oncological febrile neutropenia’, BMJ Case Reports, 2015, p. bcr2015212231. Available at: https://doi.org/10.1136/bcr-2015-212231.