apt. Sundari Desi,M.Sc
Di tengah pergantian musim dan cuaca yang sulit ditebak, tubuh kita sering kali menjadi rentan terhadap serangan penyakit seperti flu, demam, dan gangguan saluran pernapasan. Pada momen seperti inilah banyak orang beralih ke jamu sebagai pilihan alami untuk memelihara kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, di balik citra alaminya, tersembunyi ancaman berbahaya yang perlu diwaspadai: praktik penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) secara ilegal ke dalam jamu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Jamu merupakan warisan budaya Indonesia yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan, dan pengobatan penyakit. Di musim hujan atau cuaca tidak menentu, berbagai tanaman herbal yang umum dijadikan jamu terbukti dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Seperti rimpang jahe memiliki khasiat sebagai antiradang dan penghangat alami untuk gejala masuk angin yang dapat dikonsumsi dengan cara diparut dan direbus, atau diseduh sebagai teh jahe. Jamu bekerja dengan cara yang berbeda dari obat kimia modern. Jamu bekerja secara bertahap untuk memperbaiki jaringan tubuh, sehingga efeknya tidak instan. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh produsen nakal dengan menambahkan BKO untuk menciptakan kesan “manjur” dan “cespleng”.
Menurut peraturan, obat tradisional seperti jamu dilarang keras mengandung bahan kimia hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat. BKO adalah senyawa sintetis yang seharusnya hanya digunakan dalam pengobatan modern dengan resep, dosis, dan pengawasan yang ketat. Penambahannya ke dalam jamu adalah tindakan ilegal yang membahayakan konsumen. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh penambahan BKO pada jamu antara lain mulai dari gejala ringan seperti iritasi pencernaan, pusing, hingga efek berat seperti gangguan penglihatan dan irama jantung.
Beberapa jenis jamu yang sering dicemari BKO antara lain Jamu Pegal Linu/Rematik yang sering ditambahkan Diklofenak, Piroksikam, atau Parasetamol yang berisiko menyebabkan kerusakan ginjal dan pendarahan lambung, Jamu Pelangsing yang Biasa dicampur Sibutramin yang dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung secara berbahaya, dan Jamu Penambah Stamina/Pria yang kerap mengandung Sildenafil Sitrat yang berisiko menyebabkan sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, hingga masalah jantung.
Berikut beberapa tips memilih jamu yang aman:
- Selalu Cek Legalitas dengan Metode KLIK:
- Kemasan: Pastikan dalam kondisi baik dan tidak rusak.Label: Baca informasi lengkap (komposisi, produsen, cara pakai).Izin Edar: Pastikan ada Nomor Pendaftaran dari BPOM (contoh: POM TR.XXXXXX). Verifikasi keasliannya melalui website cekbpom.pom.go.id atau aplikasi Cek BPOM.
- Kedaluwarsa: Periksa tanggal kedaluwarsa produk.
- Waspadai Klaim Berlebihan: Hati-hati dengan produk yang mengklaim dapat menyembuhkan banyak penyakit atau memberi efek sangat cepat (cespleng). Ingat, jamu asli bekerja secara bertahap.
- Belilah dari Sumber Terpercaya: Prioritaskan membeli jamu dari produsen atau penjual yang telah memiliki izin usaha dan reputasi baik. Hindari membeli produk tanpa label jelas, terutama dari pedagang online yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
- Laporkan Produk Mencurigakan: Jika Anda menemukan produk jamu yang dicurigai mengandung BKO, segera laporkan ke:
Contact Center HALOBPOM: 1500533
Aplikasi Lapor BPOM
Kantor BPOM terdekat di wilayah Anda