apt. RA Dewinta Sukma Ananda, M.Biomed.

Gagal ginjal merupakan salah satu penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika ginjal tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal, seperti menyaring sisa metabolisme, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, serta menjaga tekanan darah. Jika tidak ditangani dengan baik, gagal ginjal dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya.

Secara umum, gagal ginjal dibedakan menjadi gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronik. Gagal ginjal akut terjadi secara mendadak dan masih dapat dipulihkan apabila ditangani secara cepat dan tepat. Sementara itu, gagal ginjal kronik berkembang secara perlahan dan bersifat progresif, sehingga memerlukan pengelolaan jangka panjang. Pada stadium lanjut, pasien gagal ginjal kronik membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau transplantasi ginjal.

Penyebab utama gagal ginjal kronik adalah diabetes melitus dan hipertensi yang tidak terkontrol. Selain itu, infeksi ginjal berulang, penyakit autoimun, penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, serta gaya hidup tidak sehat juga berkontribusi terhadap kerusakan ginjal. Oleh karena itu, pengendalian faktor risiko dan pemeriksaan kesehatan rutin sangat penting, terutama bagi individu dengan riwayat penyakit kronik.

Pada tahap awal, gagal ginjal sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas. Seiring dengan penurunan fungsi ginjal, pasien dapat mengalami kelelahan, pembengkakan pada kaki dan wajah, perubahan pola buang air kecil, mual, serta sesak napas. Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini agar penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi komplikasi yang lebih berat.

Gagal ginjal tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga mempengaruhi kondisi psikologis dan sosial pasien. Pasien yang menjalani hemodialisis harus menyesuaikan aktivitas sehari-hari, membatasi asupan cairan dan makanan tertentu, serta menjalani terapi secara rutin. Situasi ini dapat menurunkan kualitas hidup dan memicu stres maupun gangguan emosional, sehingga dukungan keluarga dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting.

Program studi di bidang kesehatan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pencegahan dan pengelolaan gagal ginjal. Melalui edukasi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sivitas akademika dapat berkontribusi dalam menyebarluaskan informasi kesehatan yang akurat dan berbasis ilmiah. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan kejadian gagal ginjal dapat ditekan dan kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.