PENDAHULUAN
Penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan global yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Menurut World Health Organization (WHO, 2023), penyakit jantung bersama penyakit kardiovaskular lain menyumbang sekitar 17,9 juta kematian setiap tahun, atau risiko meningkat seiring bertambahnya usia 32% dari seluruh kematian di dunia. Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama kematian, sebagaimana dilaporkan dalam Riskesdas 2018 bahwa prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan mencapai 1,5% dari populasi, dengan angka yang cenderung meningkat pada kelompok usia produktif maupun lanjut usia (Kementerian Kesehatan RI, 2019).
Penyakit jantung mencakup berbagai kondisi, di antaranya penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, aritmia, dan penyakit katup jantung. Penyakit jantung koroner merupakan bentuk yang paling umum, ditandai dengan penyempitan atau penyumbatan arteri koroner akibat aterosklerosis (penyumbatan atau pengerasan pembuluh darah akibat plak), sehingga mengurangi suplai darah ke otot jantung (American Heart Association [AHA], 2022).
FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG
Penyakit jantung, khususnya penyakit jantung koroner, dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko yang dapat dibagi menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.
-
- Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
– Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada laki-laki ≥45 tahun dan perempuan ≥55 tahun (AHA, 2022).
– Riwayat keluarga dan faktor genetik: Riwayat penyakit jantung prematur pada keluarga dekat merupakan faktor penting yang meningkatkan predisposisi individu (WHO, 2023).
– Jenis kelamin: Laki-laki memiliki risiko lebih tinggi pada usia muda, sementara perempuan cenderung meningkat risikonya setelah menopause akibat penurunan estrogen (Benjamin et al., 2019). - Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi-
- Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
- Hipertensi: Tekanan darah tinggi meningkatkan beban kerja jantung dan mempercepat aterosklerosis (penyumbatan atau pengerasan pembuluh darah akibat plak) (Virani et al., 2021).
- Dislipidemia (kadar kolesterol tidak normal, yaitu LDL ‘jahat’ yang tinggi dan HDL ‘baik’ yang rendah): Kadar LDL tinggi dan HDL rendah berhubungan erat dengan pembentukan plak aterosklerotik.
- Diabetes melitus: Hiperglikemia kronis memicu kerusakan endotel dan mempercepat penyakit aterosklerosis (penyumbatan atau pengerasan pembuluh darah akibat plak).
- Obesitas dan sindrom metabolik: Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut berkaitan dengan resistensi insulin, hipertensi, serta dislipidemia.
- Merokok: Zat toksik dalam rokok mempercepat kerusakan endotel dan meningkatkan risiko trombosis.
- Kurang aktivitas fisik: Gaya hidup sedentari mengurangi fungsi kardiovaskular dan meningkatkan risiko obesitas.
- Pola makan tidak sehat: Konsumsi tinggi lemak jenuh, gula, dan garam memperparah faktor risiko kardiometabolik (faktor risiko terkait jantung dan metabolisme, seperti diabetes dan obesitas).
- Stres psikososial: Stres kronis dan depresi terbukti berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit jantung (Rosengren et al., 2019).
- Konsumsi alkohol berlebihan: Berhubungan dengan hipertensi, gangguan irama jantung, serta kardiomiopati.
Faktor-faktor risiko ini sering bersifat multifaktorial dan saling memperkuat, sehingga pencegahan dan penanganan penyakit jantung perlu dilakukan melalui intervensi komprehensif yang mencakup edukasi, modifikasi gaya hidup, skrining rutin, serta terapi farmakologis yang tepat.
STRATEGI PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG BERBASIS EVIDENCE
1. Pencegahan Primer (sebelum timbul penyakit)
Bertujuan menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung pertama kali, terutama pada individu sehat atau dengan faktor risiko:
Modifikasi gaya hidup:
– Diet sehat (DASH/Mediterania), rendah lemak jenuh, rendah garam, kaya buah & sayur.
– Aktivitas fisik ≥150 menit/minggu.
– Berhenti merokok & hindari alkohol berlebihan.
Kontrol faktor risiko:
– Tekanan darah, kadar lipid, gula darah, dan berat badan.
2. Pencegahan Sekunder
Ditujukan untuk mencegah kekambuhan, progresivitas, atau kejadian kardiovaskular berikutnya:
– Terapi medis standar (Guideline-Directed Medical Therapy / GDMT):
– Rehabilitasi kardiak: latihan fisik terstruktur, edukasi, konseling gaya hidup.
– Monitoring jangka panjang: follow-up klinis, laboratorium, dan edukasi kepatuhan.
PENDEKATAN HOLISTIK: INTEGRASI MEDIS DAN NON-MEDIS
Penyakit jantung bersifat multifaktorial sehingga penanganannya memerlukan pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga melibatkan intervensi non-medis. Integrasi ini bertujuan meningkatkan efektivitas terapi, kualitas hidup pasien, serta mengurangi beban penyakit secara komprehensif.
Jangan tunggu hingga gejala muncul. Mulailah gaya hidup sehat hari ini dan diskusikan faktor risiko Anda dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pemeriksaan kesehatan rutin adalah langkah awal terbaik untuk menjaga jantung Anda.
KESIMPULAN
Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian di dunia. Pahami faktor risikonya mulai dari hipertensi, diabetes, hingga stres, dan pelajari strategi pencegahan yang efektif berdasarkan bukti ilmiah. Penyakit jantung tetap menjadi tantangan besar bagi dunia kesehatan, khususnya di Indonesia. Faktor risiko yang kompleks menuntut strategi pencegahan yang komprehensif dan berbasis evidence. Integrasi antara intervensi medis, dukungan teknologi, serta pendekatan non-medis terbukti mampu memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian. Dalam hal ini, universitas memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai agen edukasi publik dalam membangun kesadaran dan budaya hidup sehat di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
- American Heart Association. (2022). Heart disease and stroke statistics—2022 update: A report from the American Heart Association. Circulation, 145(8), e153–e639. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001052
- Benjamin, E. J., Muntner, P., Alonso, A., Bittencourt, M. S., Callaway, C. W., Carson, A. P., Chamberlain, A. M., Chang, A. R., Cheng, S., Das, S. R., et al. (2019). Heart disease and stroke statistics—2019 update: A report from the American Heart Association. Circulation, 139(10), e56–e528. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000659
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
McDonagh, T. A., Metra, M., Adamo, M., Gardner, R. S., Baumbach, A., Böhm, M., Burri, H., Butler, J., Čelutkienė, J., Chioncel, O., et al. (2021). 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. European Heart Journal, 42(36), 3599–3726. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehab368 - Rosengren, A., Hawken, S., Ôunpuu, S., Sliwa, K., Zubaid, M., Almahmeed, W. A., Blackett, K. N., Sitthi-Amorn, C., Sato, H., & Yusuf, S. (2019). Association of psychosocial risk factors with risk of acute myocardial infarction in 11,119 cases and 13,648 controls. The Lancet, 364(9438), 953–962. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(04)17019-0
- Virani, S. S., Alonso, A., Aparicio, H. J., Benjamin, E. J., Bittencourt, M. S., Callaway, C. W., Carson, A. P., Chamberlain, A. M., Cheng, S., Delling, F. N., et al. (2021). Heart disease and stroke statistics—2021 update: A report from the American Heart Association. Circulation, 143(8), e254–e743. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000950
- World Health Organization. (2023). Cardiovascular diseases (CVDs). Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases-(cvds)