apt. Tetie Herlina, M.Farm
Skabies atau kudis, gudig, dan budug adalah penyakit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penularan terjadi melalui kontak kulit ke kulit, hubungan seksual, atau kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi (misalnya, pakaian dan handuk). Prevalensi tertinggi skabies di Indonesia didominasi daerah padat penduduk, pedesaan, dan komunitas dengan sanitasi rendah. Prevalensi pada anak sekolah dapat mencapai 5–12%, bahkan lebih tinggi di lingkungan asrama atau pesantren. Jumlah kasus di Indonesia dan dunia meningkat yang dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, kepadatan hunian, keterbatasan akses air bersih, serta rendahnya kesadaran Kesehatan.
Siklus hidup S. scabiei var. hominis berlangsung sekitar 4–6 minggu dan terdiri dari empat tahap yaitu telur, larva, nimfa, dan tungau dewasa. Infeksi dimulai ketika tungau betina berpindah dari penderita ke individu sehat, kemudian berjalan di permukaan kulit untuk mencari lokasi yang sesuai. Tungau betina dapat hidup 30–60 hari di dalam kulit dan terus menginfeksi selama masa hidupnya. Di luar tubuh manusia, tungau dewasa hanya bertahan 24–36 jam, sedangkan stadium belum dewasa dapat bertahan hingga satu minggu.
Gejala utama skabies adalah rasa gatal intens, yang memburuk pada malam hari dan setelah mandi air panas. Lesi pada kulit berbentuk terowongan seperti garis lurus atau berkelok, warna putih atau abu-abu dengan ujung papul atau vesikel. Apabila terjadi infeksi sekunder maka terdapat pustul atau nodul. Tempat lesi meliputi sela-sela jari, pergelangan tangan, siku, pusar, genital, dan pada bayi juga bisa ditemukan di telapak tangan, telapak kaki, dan kulit kepala.
Edukasi pada pasien dan keluarganya merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan skabies. Tungau dapat mencemari benda-benda tertentu yang dapat menjadi perantara penularan, seperti pakaian, sprei, dan handuk, oleh karena itu harus direndam/dicuci dengan air panas (≥50°C) dan dikeringkan dengan udara panas Dekontaminasi pakaian dan alas tidur bisa juga dilakukan dengan disimpan dalam kantung plastik tertutup selama beberapa hari. Karpet, kasur, bantal, tempat duduk terbuat dari bahan busa atau berbulu perlu dijemur di bawah terik matahari setelah dilakukan penyedotan debu.
Pengobatan skabies umumnya menggunakan dua bentuk sediaan yaitu topikal (oles) dan oral (minum). Obat-obat ini dikembangkan untuk membasmi tungau, memutus rantai penularan, serta meredakan gejala. Obat topikal adalah terapi lini pertama pada skabies ringan dan sedang. Obat oral lebih banyak digunakan sebagai alternatif pada kasus kegagalan terapi topikal, wabah, atau kondisi khusus (misalnya skabies krustosa, pasien gangguan mental, dan komunitas padat. Beberapa pilihan pengobatan untuk skabies antara lain:
- Permethrin 5%
Permethrin merupakan insektisida sintetis golongan pyrethroid yang menjadi pilihan utama terapi topikal skabies di Indonesia (Regina., dkk, 2020). Cara penggunaan dioleskan ke seluruh tubuh (leher ke bawah pada dewasa dan seluruh permukaan kulit pada bayi dan lansia), dibiarkan 8–12 jam, lalu dibilas. Biasanya satu aplikasi sudah cukup, namun dapat diulang 7–14 hari kemudian jika gejala menetap. - Benzyl Benzoate
Benzyl benzoate digunakan secara meluas di negara berkembang. Umumnya tersedia dalam konsentrasi 10–25%. Efek sampingnya berupa iritasi dan rasa panas pada kulit, namun biayanya rendah dan akses mudah. - Salep Sulfur (Sulfat)
Salep sulfur (5–10%) merupakan terapi dengan tingkat keamanan tinggi untuk bayi, anak, dan ibu hamil. Namun, efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan permethrin, dan membutuhkan aplikasi berulang selama beberapa hari berturut-turut. - Lindane, Crotamiton, Malathion
Lindane adalah insektisida organik dengan efek anti skabies yang kuat. Lindane tersedia dalam bentuk krim/losion, namun dibatasi penggunaannya karena potensi toksisitas sistemik. Crotamiton dan malathion lebih jarang digunakan karena efektivitas relatif lebih rendah serta memiliki risiko iritasi dan reaksi alergi. Terapi kombinasi kadang digunakan bila monoterapi gagal. - Salep 2–4 (Asam Salisilat 2% + Sulfur 4%)
Salep ini merupakan pilihan alternatif bila permethrin tidak tersedia atau tidak dapat digunakan. Efektivitasnya lebih rendah, dan dapat menimbulkan iritasi pada kulit sensitif. - Ivermectin
Ivermectin merupakan obat antiparasit yang tersedia dalam bentuk tablet (200 µg/kgBB), menjadi solusi pada kasus yang gagal menggunakan terapi topikal, skabies krustosa, atau kondisi wabah. Ivermectin diberikan dua dosis dengan interval 7–14 hari, dan dapat diperoleh dengan resep dari dokter. Efektivitas ivermectin sangat baik, terutama pada populasi dengan kepatuhan rendah terhadap terapi topikal seperti pada anak-anak, lansia, dan pasien gangguan jiwa. Keamanan penggunaannya belum sepenuhnya jelas pada ibu hamil dan anak. - Kombinasi Terapi
Pada kasus berat, kombinasi antara ivermectin oral dan permethrin topikal dapat meningkatkan efektifitas terapi. WHO menyarankan penggunaan ini khusus pada kasus skabies krustosa, kasus wabah, atau pasien dengan penurunan imunitas.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kurniawan M and Liug MSS, “Diagnosis dan Terapi Skabies. Cermin Dunia Kedokteran,” Cdk-283, vol. 47, no. 2, pp. 104–107, 2020.
[2] J. Li, Z. Liu, and X. Xia, “The disability-adjusted life years (DALYs), prevalence and incidence of scabies, 1990– 2021: A systematic analysis from the Global Burden of Disease Study 2021,” PLoS Negl. Trop. Dis., vol. 18, no. 12, pp. 1–19, 2024, doi: 10.1371/journal.pntd.0012775.
[3] Rizki Amalia Nashuha, Satryo Waspodo, and Yani Triyani, “Perbandingan Cure Rate Obat-obat Antiskabies di Formularium Nasional dengan Non-Formularium Nasional,” Cermin Dunia Kedokt., vol. 48, no. 12, pp. 730–734, 2021, doi: 10.55175/cdk.v48i12.173.
[4] S. Agustina, E. Setiyawati, and M. Fatha Hernanda, “Skabies : Patogenesis, Transmisi, Diagnosis, dan Terapi,” Ranah Res. J. Multidiscip. Res. Dev., vol. 7, no. 1, pp. 592–600, 2024, doi: 10.38035/rrj.v7i1.1250.
[5] Ö. Karakoyun, E. Ayhan, and İ. Yıldız, “Effect of ivermectin on scabies: a retrospective evaluation,” BMC Infect. Dis., vol. 25, no. 1, 2025, doi: 10.1186/s12879-025-11315-5.
[6] M. Illyas, A. Shahzad, S. Siddiqui, M. Awais, M. Qayyum, and N. A. Azfar, “Comparison of efficacy of oral ivermectin and topical permethrin 5% in the treatment of scabies,” J. Pakistan Assoc. Dermatologists, vol. 33, no. 1, pp. 123–131, 2023.
[7] M. Vol and J. Oktober, “DERMATO-VENEREOLOGICA INDONESIANA,” vol. 47, no. 4.
[8] D. Meyersburg et al., “Comparison of topical permethrin 5% vs. benzyl benzoate 25% treatment in scabies: a double-blinded randomized controlled trial,” Br. J. Dermatol., vol. 190, no. 4, pp. 486–491, 2024, doi: 10.1093/bjd/ljad501.
[9] B. I. Hospital, R. Hospital, and D. Health, “Pakistan Journal of Intensive Care Medicine,” vol. 2024, no. 2, pp. 1–4, 2024.
[10] C. M. Salavastru, O. Chosidow, M. J. Boffa, M. Janier, and G. S. Tiplica, “European guideline for the management of scabies,” J. Eur. Acad. Dermatology Venereol., vol. 31, no. 8, pp. 1248–1253, 2017, doi: 10.1111/jdv.14351.
[11] L. Mbuagbaw et al., “Failure of scabies treatment: a systematic review and meta-analysis,” Br. J. Dermatol., vol. 190, no. 2, pp. 163–173, 2024, doi: 10.1093/bjd/ljad308.
[12] D. Engelman et al., “The public health control of scabies: priorities for research and action,” Lancet, vol. 394, no. 10192, pp. 81–92, 2019, doi: 10.1016/S0140-6736(19)31136-5.