apt. Ari Widhiarso M. Farm

Musim ujian sering diimbangi dengan datangnya “paket lengkap” seperti begadang, stres, makan tidak teratur, kurang gerak, dan tubuh yang mulai terasa lelah karena istirahat yang menjadi tidak teratur. Tidak heran jika muncul beberapa keluhan seperti sakit kepala, flu, batuk, nyeri badan, maag, atau susah tidur lebih mudah muncul saat jadwal kegiatan akademik sedang padat.

Pada situasi seperti ini, banyak orang memilih membeli obat sendiri untuk meredakan keluhan yang muncul. Ada juga yang menambah konsumsi vitamin, suplemen, minuman energi, atau produk herbal agar tubuh tetap fit dan kuat. Kebiasaan ini sebenarnya cukup umum, tetapi tetap perlu dilakukan dengan hati-hati. Sebab, obat dan suplemen yang digunakan secara sembarangan justru dapat menimbulkan permasalahan baru.

Dalam dunia kesehatan, penggunaan obat untuk mengatasi keluhan ringan tanpa resep dokter disebut swamedikasi. Swamedikasi dapat dilakukan terutama untuk keluhan ringan, tetapi harus tetap rasional. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa swamedikasi tidak berarti “asal mengobati”; obat yang digunakan perlu dipilih dengan tepat, digunakan sesuai aturan, dan tetap memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Swamedikasi Itu Boleh, Asal Cerdas

Swamedikasi yang benar dapat membantu mengatasi keluhan ringan dengan cepat dan praktis. Misalnya, minum obat penurun demam saat demam ringan, menggunakan obat maag sesuai aturan, atau mengonsumsi obat batuk sesuai dengan jenis batuknya. Namun, masalah sering muncul ketika obat diminum tanpa aturan membaca pakai. Contohnya, minum obat sakit kepala melebihi dosis atau jumlah yang tertera pada kemasan karena ingin cepat sembuh, mengonsumsi beberapa obat flu sekaligus padahal kandungannya hampir mirip, atau menggunakan antibiotik sisa resep lama untuk batuk pilek atau dari saudara atau teman yang sebelumnya sakit yang sama.

Padahal, setiap obat memiliki aturan yang berbed-beda tergantung pada komposisi dan bentuk sediaan. Ada dosis, jarak minum, efek samping, serta peringatan tertentu. Oleh karena itu, sebelum menggunakan obat, biasakan untuk membaca keterangan pada label dan kemasan. Jika ragu, tanyakan obat yang akan dikonsumsi kepada apoteker atau tenaga kesehatan. Kementerian Kesehatan RI melalui program Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat atau GeMa CerMat juga mendorong masyarakat agar lebih memahami penggunaan obat yang benar, aman, dan rasional.

Jangan Langsung Minum Antibiotik Saat Flu

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menggunakan antibiotik untuk flu, batuk, pilek, atau sakit tenggorokan tanpa pemeriksaan dokter. Padahal, sebagian besar flu dan pilek disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik bekerja untuk melawan infeksi bakteri.

Penggunaan antibiotik secara sembarangan bukan hanya meningkatkan risiko terjadinya efek samping seperti mual, diare, atau alergi, tetapi juga resistensi antibiotik. Artinya, bakteri menjadi kebal dan suatu saat jika sakit kembali akan menjadi lebih parah sehingga infeksi di masa depan akan lebih sulit untuk diobati dengan menggunakan antibiotik atau obat yang sama. Bahkan tidak jarang pula memerlukan dosis atau obat lain yang lebih kuat baik secara dosis atau golongan obatnya.  

Jadi, jika sedang flu saat musim ujian, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah cukup istirahat, minum air yang cukup, makan-makanan yang bergizi, dan gunakan obat gejala sesuai bila diperlukan. Jika demam tinggi, sesak nafas, gejala tidak kunjung membaik, atau kondisi semakin berat, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Obat Pereda Nyeri Juga Ada Aturannya

Saat belajar terlalu lama, kurang tidur, atau menatap layar dalam waktu yang lama, sakit kepala seringkali muncul. Obat pereda nyeri seperti Parasetamol memang dapat membantu, tetapi tetap harus digunakan sesuai dosis.

US Food and Drug Administration menyebutkan bahwa dosis maksimal penggunaan Asetaminofen atau yang lebih kita kenal dengan Parasetamol untuk orang dewasa adalah 4.000 mg per hari dari seluruh obat yang dikonsumsi. Hal ini penting karena parasetamol tidak hanya terdapat dalam obat penurun demam, tetapi juga sering terdapat dalam kombinasi obat flu. Jika seseorang meminum beberapa produk sekaligus, dosis totalnya bisa tanpa disadari menjadi berlebihan.

Agar lebih aman, periksa kandungan obat terlebih dahulu sebelum diminum. Jangan hanya melihat merek dagang dari obat yang dikonsumsi. Perhatikan juga nama zat aktif, dosis, aturan pakai, dan peringatan pada kemasan. Jika mengalami keraguan, tanyakan obat yang akan dikonsumsi kepada apoteker atau tenaga kesehatan.

Suplemen Bukan Pengganti Tidur dan Makan Bergizi

Saat ujian, banyak orang mengandalkan suplemen agar tubuh tetap bugar. Vitamin dan suplemen memang dapat membantu pada kondisi tertentu, terutama bila asupan gizi kurang atau ada kebutuhan khusus. Namun, suplemen bukan pengganti pola makan sehat, tidur cukup, dan manajemen stres.

Suplemen juga tidak selalu bebas risiko. Beberapa suplemen dapat berinteraksi dengan obat resep maupun obat bebas. FDA mengingatkan bahwa suplemen dapat memiliki efek yang kuat dalam tubuh, sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama jika seseorang sedang minum obat rutin atau memiliki penyakit tertentu. Contohnya, seseorang yang sedang minum obat pengencer darah, obat tekanan darah, obat diabetes, atau obat jantung sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi suplemen tanpa berkonsultasi terlebih dahulu kepada apoteker atau tenaga kesehatan. Produk herbal pun tetap perlu diperhatikan, karena “alami” tidak selalu berarti aman untuk dikonsumsi oleh semua orang.

Kafein Boleh, Tapi Jangan Jadi Pengganti Waktu Istirahat

Kopi sering menjadi teman setia siswa saat belajar menghadapi ujian. Dalam jumlah yang wajar, kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan. Namun jika berlebihan, kafein bisa menyebabkan kondisi jantung berdebar, gelisah, sulit tidur, nyeri lambung, bahkan membuat tubuh terasa semakin tidak nyaman.

FDA Menyebutkan bahwa bagi kebanyakan orang dewasa, konsumsi kafein sekitar 400 mg per hari umumnya masih tidak berkaitan dengan efek berbahaya, tetapi sensitivitas setiap orang berbeda. Artinya, pada beberapa kondisi orang yang minum sedikit kopi sudah bisa menimbulkan rasa berdebar atau sulit tidur. 

Jadi, jangan menjadikan kopi, minuman energi, atau suplemen penambah stamina sebagai “jalan pintas” untuk memaksa tubuh tetap aktif. Tubuh tetap membutuhkan istirahat agar otak dapat bekerja maksimal.

Jangan Lupakan Obat Rutin

Bagi pelajar atau anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis, seperti hipertensi, asma, diabetes, epilepsi, atau penyakit jantung, jadwal ujian yang padat tidak boleh menjadi alasan untuk lupa minum obat. Obat rutin harus tetap diminum sesuai anjuran dokter.

Menghentikan obat tanpa konsultasi dapat membuat penyakit menjadi tidak terkontrol. Misalnya, tekanan darah bisa naik kembali, gula darah tidak stabil, atau asma lebih mudah kambuh. Jika obat terasa menimbulkan efek samping, jangan langsung berhenti sendiri. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker agar terapi dapat dievaluasi dengan aman.

WHO melalui kampanye Medication Without Harm menekankan bahwa keselamatan penggunaan obat adalah tanggung jawab bersama, baik tenaga kesehatan maupun pasien. Pasien perlu mengetahui obat yang diminum, cara penggunaannya, serta kapan harus bertanya atau mencari bantuan.

Tips Cerdas Menggunakan Obat dan Suplemen Saat Musim Ujian

Agar tetap aman, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  1. Baca label obat sebelum minum.
    Perhatikan kandungan, dosis, aturan pakai, tanggal kadaluarsa, dan peringatan. 
  2. Jangan mencampur banyak obat tanpa tahu kandungannya.
    Beberapa obat flu, batuk, dan nyeri bisa memiliki zat aktif yang sama. 
  3. Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter.
    Antibiotik bukan obat untuk semua jenis batuk, pilek, atau demam. 
  4. Gunakan suplemen sesuai kebutuhan.
    Jangan menganggap semakin banyak suplemen berarti semakin sehat. 
  5. Konsultasikan dengan apoteker.
    Apoteker dapat membantu menjelaskan aturan minum, efek samping, interaksi obat, dan cara penyimpanan obat. 
  6. Utamakan pola hidup sehat.
    Tidur cukup, makan bergizi, minum air putih, dan mengelola stres tetap menjadi “obat” penting saat musim ujian. 

Peran Farmasi dalam Edukasi Swamedikasi

Di sinilah peran ilmu farmasi menjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Farmasi tidak hanya berbicara tentang obat di laboratorium atau apotek, tetapi juga tentang bagaimana obat digunakan secara tepat oleh masyarakat.

Tenaga kefarmasian berperan membantu masyarakat memahami obat, mulai dari cara memilih obat bebas, aturan pakai, efek samping, interaksi obat, hingga pentingnya kepatuhan minum obat pada penyakit kronis. Edukasi seperti ini sangatlah penting, terutama di tengah banyaknya informasi kesehatan yang tersebar di media sosial.

Program Studi S1 ​​Farmasi Universitas Alma Ata hadir untuk mencetak calon tenaga kesehatan yang mampu berperan dalam pelayanan kefarmasian, edukasi penggunaan obat rasional, dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui ilmu farmasi, mahasiswa tidak hanya belajar tentang obat, tetapi juga belajar bagaimana membimbing masyarakat agar lebih cerdas, aman, dan bertanggung jawab dalam menggunakan obat.

Kesimpulan

Musim ujian memang menuntut tubuh dan pikiran bekerja lebih keras. Namun, menjaga kesehatan tidak boleh dilakukan dengan cara yang sembarangan. Obat dan suplemen dapat membantu jika digunakan dengan benar, namun bisa berisiko jika dikonsumsi tanpa aturan.

Jadi, sebelum meminum obat atau suplemen, ingatlah prinsip sederhana: baca aturan pakai, pahami kandungannya, gunakan sesuai kebutuhan, dan tanyakan kepada apoteker atau tenaga kesehatan jika ragu. Ujian boleh padat, tetapi kesehatan tetap harus menjadi prioritas.

Ingin belajar lebih dalam tentang obat, kesehatan, dan pelayanan kefarmasian? Yuk bergabung dengan S1 Farmasi Universitas Alma Ata dan jadilah bagian dari tenaga kesehatan profesional masa depan! Klik di sini