Oleh : apt.Sri Suprapti,M.Farm
Kenali Gejalanya, Cegah Kerusakan Organ Sejak Dini-Program Studi S1 Farmasi Universitas Alma Ata
Diabetes melitus bukan sekadar penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Jika tidak dikendalikan dengan baik, diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ tubuh, mulai dari jantung, ginjal, mata, saraf, hingga kaki.
Komplikasi diabetes dapat muncul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Sebagian komplikasi bahkan tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dan pengendalian gula darah sangat penting untuk mencegah kerusakan organ yang lebih berat.
Komplikasi Akut Diabetes
Komplikasi akut terjadi dalam waktu relatif cepat dan dapat mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.
- Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah turun terlalu rendah. Keadaan ini sering terjadi pada pasien yang menggunakan insulin atau obat diabetes tertentu, terutama jika terlambat makan, makan terlalu sedikit, atau melakukan aktivitas fisik berlebihan.
Gejala hipoglikemia dapat berupa:
- Keringat dingin
- Gemetar
- Rasa lapar berlebihan
- Jantung berdebar
- Pusing dan lemas
- Sulit berkonsentrasi
- Perubahan perilaku
- Penurunan kesadaran
Hipoglikemia berat dapat menyebabkan kejang, koma, cedera, gangguan irama jantung, bahkan kematian. Jika terjadi berulang kali, pasien juga dapat kehilangan kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal hipoglikemia.
- Ketoasidosis Diabetik
Ketoasidosis diabetik terjadi ketika tubuh kekurangan insulin sehingga tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Tubuh kemudian memecah lemak dan menghasilkan zat keton yang bersifat asam.
Gejalanya meliputi mual, muntah, nyeri perut, sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, napas cepat dan dalam, bau napas seperti buah atau aseton, serta penurunan kesadaran.
Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi berat, gangguan elektrolit, gagal ginjal, koma, dan kematian.
- Keadaan Hiperglikemik Hiperosmolar
Keadaan hiperglikemik hiperosmolar umumnya terjadi pada pasien diabetes tipe 2. Kondisi ini ditandai dengan kadar gula darah yang sangat tinggi dan dehidrasi berat.
Pasien dapat mengalami sangat haus, sering buang air kecil, lemas, kebingungan, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Keadaan ini merupakan kegawatdaruratan medis dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit.
Komplikasi Kronis Diabetes
Komplikasi kronis berkembang secara perlahan akibat kadar gula darah yang tidak terkendali dalam waktu lama. Kerusakan dapat terjadi pada pembuluh darah besar, pembuluh darah kecil, dan sistem saraf.
- Penyakit Jantung
Diabetes dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan gagal jantung. Risiko ini semakin tinggi jika pasien juga mengalami tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas, atau memiliki kebiasaan merokok.
Pada sebagian pasien diabetes, serangan jantung dapat terjadi tanpa nyeri dada yang khas karena adanya kerusakan saraf. Kondisi ini dikenal sebagai serangan jantung tanpa gejala atau silent heart attack.
- Stroke
Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat terbentuknya penyumbatan. Akibatnya, pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke.
Stroke dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan bicara, kesulitan menelan, penurunan daya ingat, disabilitas permanen, bahkan kematian.
- Kerusakan Ginjal
Diabetes merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.
Pada tahap awal, kerusakan ginjal sering tidak menimbulkan gejala. Namun, jika tidak terdeteksi dan ditangani, fungsi ginjal dapat terus menurun hingga pasien memerlukan cuci darah atau transplantasi ginjal.
Pemeriksaan albumin dalam urine dan fungsi ginjal secara rutin diperlukan untuk mendeteksi kerusakan sejak dini.
- Gangguan Penglihatan
Diabetes dapat merusak pembuluh darah pada retina dan menyebabkan retinopati diabetik. Pada tahap awal, pasien mungkin tidak merasakan gangguan penglihatan.
Seiring berkembangnya penyakit, pasien dapat mengalami:
- Pandangan kabur
- Muncul bintik atau bayangan hitam
- Kesulitan membaca
- Penurunan tajam penglihatan
- Kebutaan
Selain retinopati, diabetes juga dapat meningkatkan risiko katarak dan glaukoma. Pemeriksaan mata secara berkala penting dilakukan meskipun pasien belum mengalami keluhan.
- Neuropati atau Kerusakan Saraf
Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Kondisi ini paling sering menyerang kaki dan tungkai.
Gejalanya dapat berupa kesemutan, rasa terbakar, tertusuk, nyeri seperti tersengat listrik, kebas, atau hilangnya kemampuan merasakan sentuhan dan suhu.
Hilangnya sensasi pada kaki sangat berbahaya karena pasien dapat tidak menyadari adanya luka, lecet, atau benda asing di dalam sepatu. Luka kecil kemudian dapat berkembang menjadi ulkus dan infeksi berat.
Neuropati juga dapat menyebabkan gangguan keseimbangan, meningkatkan risiko jatuh, mengganggu tidur, dan menurunkan kualitas hidup.
- Ulkus Kaki dan Amputasi
Komplikasi kaki diabetik terjadi akibat kombinasi kerusakan saraf, gangguan aliran darah, deformitas kaki, trauma, dan gangguan penyembuhan luka.
Pasien yang mengalami mati rasa pada kaki mungkin tidak menyadari adanya luka. Pada saat yang sama, aliran darah yang buruk menyebabkan luka sulit sembuh dan mudah mengalami infeksi.
Jika tidak segera ditangani, luka dapat berkembang menjadi:
- Infeksi jaringan
- Abses
- Infeksi tulang
- Gangren
- Sepsis
- Amputasi
Pemeriksaan kaki setiap hari, penggunaan alas kaki yang sesuai, serta penanganan luka sedini mungkin dapat membantu mengurangi risiko amputasi.
- Penyakit Arteri Perifer
Penyakit arteri perifer terjadi ketika pembuluh darah yang mengalirkan darah ke tungkai mengalami penyempitan atau penyumbatan.
Gejalanya dapat berupa nyeri pada tungkai ketika berjalan, kaki terasa dingin, perubahan warna kulit, luka sulit sembuh, dan jaringan kaki mengalami kematian.
Jika terjadi bersamaan dengan neuropati, penyakit arteri perifer dapat meningkatkan risiko ulkus, infeksi, gangren, dan amputasi.
- Neuropati Otonom
Diabetes juga dapat merusak saraf yang mengatur fungsi organ secara otomatis. Kondisi ini disebut neuropati otonom.
Gangguan yang dapat muncul meliputi:
- Tekanan darah turun saat berdiri
- Jantung berdebar
- Gangguan irama jantung
- Mual dan cepat kenyang
- Pengosongan lambung yang lambat
- Konstipasi atau diare
- Gangguan buang air kecil
- Disfungsi ereksi
- Gangguan fungsi seksual
Gangguan pengosongan lambung atau gastroparesis juga dapat menyebabkan kadar gula darah menjadi sulit diprediksi.
- Infeksi dan Luka Sulit Sembuh
Kadar gula darah yang tinggi dapat menurunkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan kuman. Akibatnya, pasien diabetes lebih mudah mengalami infeksi.
Infeksi yang sering terjadi antara lain infeksi kulit, saluran kemih, saluran pernapasan, jamur, serta infeksi pada kaki.
Luka pada pasien diabetes juga cenderung lebih lambat sembuh. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat menyebar ke jaringan yang lebih dalam dan menyebabkan sepsis.
- Gangguan Gigi dan Mulut
Pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami radang gusi, periodontitis, mulut kering, infeksi jamur, gigi berlubang, dan kehilangan gigi.
Hubungan antara diabetes dan penyakit gusi bersifat dua arah. Gula darah yang tidak terkendali dapat memperburuk peradangan gusi, sedangkan infeksi dan peradangan gusi dapat mempersulit pengendalian gula darah.
- Gangguan Fungsi Seksual dan Reproduksi
Kerusakan pembuluh darah dan saraf dapat menyebabkan disfungsi ereksi, penurunan libido, gangguan ejakulasi, kekeringan vagina, serta nyeri saat berhubungan seksual.
Pada perempuan hamil, diabetes yang tidak terkontrol juga dapat meningkatkan risiko keguguran, preeklamsia, bayi berukuran terlalu besar, persalinan melalui operasi, serta gangguan kesehatan pada bayi.
- Gangguan Kognitif dan Psikologis
Diabetes juga dapat memengaruhi kesehatan otak dan mental. Pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif, demensia, kecemasan, dan depresi.
Beban menjalani pengobatan jangka panjang, pembatasan pola makan, nyeri neuropatik, serta kekhawatiran terhadap komplikasi dapat menimbulkan stres terkait diabetes.
Gangguan psikologis juga dapat membuat pasien kesulitan menjalankan pola hidup sehat dan mematuhi pengobatan.
Bagaimana Cara Mencegah Komplikasi Diabetes?
Risiko komplikasi dapat dikurangi melalui pengelolaan diabetes yang teratur dan menyeluruh. Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan adalah:
- Menjaga kadar gula darah sesuai target
- Mengontrol tekanan darah dan kolesterol
- Mengonsumsi obat sesuai petunjuk tenaga kesehatan
- Menjaga pola makan sehat
- Melakukan aktivitas fisik secara teratur
- Menghindari rokok
- Menjaga berat badan
- Memeriksakan mata dan fungsi ginjal secara berkala
- Memeriksa kondisi kaki setiap hari
- Segera berobat jika terdapat luka, infeksi, atau perubahan warna pada kaki
Diabetes memang merupakan penyakit kronis, tetapi komplikasinya tidak selalu harus terjadi. Dengan pengendalian gula darah yang baik, pemeriksaan rutin, dan keterlibatan aktif pasien dalam perawatan, risiko kerusakan organ dan disabilitas dapat ditekan.
Frequently Asked Questions
Apakah semua penderita diabetes pasti mengalami komplikasi?
Tidak. Komplikasi diabetes tidak selalu terjadi. Risiko komplikasi dapat ditekan dengan menjaga kadar gula darah tetap terkontrol, menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi obat sesuai anjuran, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Apa komplikasi diabetes yang paling sering terjadi?
Beberapa komplikasi yang paling sering dialami penderita diabetes meliputi penyakit jantung, stroke, kerusakan ginjal, gangguan penglihatan (retinopati diabetik), kerusakan saraf (neuropati), serta luka pada kaki yang sulit sembuh hingga berisiko menyebabkan amputasi.
Mengapa penderita diabetes harus memeriksa kaki setiap hari?
Diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf sehingga penderita tidak merasakan luka kecil atau lecet pada kaki. Jika tidak segera ditangani, luka dapat berkembang menjadi infeksi serius, gangren, bahkan memerlukan amputasi.
Bagaimana cara mencegah komplikasi diabetes?
Pencegahan dilakukan dengan mengendalikan kadar gula darah, menjaga tekanan darah dan kolesterol, menerapkan pola makan sehat, berolahraga secara teratur, tidak merokok, menjaga berat badan ideal, serta melakukan pemeriksaan mata, ginjal, dan kaki secara berkala.
Kapan penderita diabetes harus segera mencari pertolongan medis?
Segera ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti penurunan kesadaran, gula darah sangat tinggi atau sangat rendah, sesak napas, nyeri dada, kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, luka kaki yang tidak sembuh atau bernanah, serta tanda-tanda infeksi seperti demam dan pembengkakan. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih berat.
Question & Answer
Q: Apakah komplikasi diabetes hanya terjadi pada penderita yang sudah lama sakit?
A: Tidak. Komplikasi akut seperti hipoglikemia dan ketoasidosis diabetik dapat terjadi kapan saja apabila kadar gula darah tidak terkendali. Sementara komplikasi kronis memang lebih sering berkembang setelah bertahun-tahun, terutama jika pengendalian diabetes kurang baik.
Q: Mengapa diabetes dapat menyebabkan kebutaan?
A: Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah pada retina (retinopati diabetik). Jika tidak dideteksi dan diobati sejak dini, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Oleh karena itu, pemeriksaan mata rutin sangat penting meskipun belum ada keluhan.
Q: Mengapa luka pada kaki penderita diabetes sulit sembuh?
A: Diabetes dapat merusak saraf dan pembuluh darah sehingga aliran darah ke kaki berkurang dan kemampuan tubuh melawan infeksi menurun. Akibatnya, luka menjadi lebih lambat sembuh dan berisiko berkembang menjadi infeksi serius hingga amputasi.
Q: Apa tanda-tanda hipoglikemia yang perlu diwaspadai?
A: Hipoglikemia biasanya ditandai dengan keringat dingin, gemetar, rasa lapar berlebihan, jantung berdebar, pusing, lemas, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan kesadaran. Jika gejala muncul, segera konsumsi sumber karbohidrat yang cepat diserap dan segera cari pertolongan medis bila kondisi tidak membaik.
Q: Apa langkah paling efektif untuk mencegah komplikasi diabetes?
A: Kunci utamanya adalah menjaga kadar gula darah tetap sesuai target melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, konsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, tidak merokok, menjaga berat badan ideal, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk pemeriksaan mata, ginjal, dan kaki. Dengan pengelolaan yang baik, risiko komplikasi dapat dikurangi secara signifikan.
Info Penerimaan Mahasiswa Baru:
Jl. Brawijaya 99, Yogyakarta 55183
+62 858-1243-5474