apt. Ari Widhiarso M. Farm

Ketika Ibadah dan Akademik Harus Berjalan Bersama

Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang khas di lingkungan kampus. Aktivitas perkuliahan tetap berjalan, praktikum tidak berhenti, tugas akademik tetap menuntut penyelesaian, sementara mahasiswa juga menjalani ibadah puasa dengan berbagai penyesuaian fisiologis. Perubahan pola makan, waktu tidur, serta ritme hidrasi menjadikan Ramadhan sebagai periode adaptasi biologis yang unik tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara kesehatan.

Bagi mahasiswa bidang kesehatan, khususnya farmasi, menjaga kebugaran selama Ramadhan bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan bagian dari pembelajaran nyata tentang bagaimana tubuh merespons perubahan metabolik. Ketika energi harus dikelola lebih efisien dan konsentrasi tetap terjaga, pendekatan promotif-preventif berbasis gaya hidup sehat menjadi kunci.

Di tengah kebutuhan tersebut, minuman herbal tradisional berbasis etnomedisin muncul sebagai solusi sederhana, terjangkau, dan selaras dengan kekayaan ilmu farmasi bahan alam. Bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang mendukung kesehatan selama puasa.

Adaptasi Fisiologis Mahasiswa Selama Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan menyebabkan perubahan waktu asupan nutrisi dari pola tiga kali makan menjadi dua periode utama: sahur dan berbuka. Kondisi ini mempengaruhi berbagai sistem tubuh, antara lain:

  1. Metabolisme energi yang bergeser menuju penggunaan cadangan lemak.
  2. Status hidrasi yang bergantung penuh pada asupan cairan malam hari.
  3. Kualitas tidur yang sering terfragmentasi akibat bangun sahur dan aktivitas ibadah malam.
  4. Kinerja kognitif yang sensitif terhadap dehidrasi ringan dan kurang tidur.

Pada mahasiswa dengan jadwal kuliah padat dan praktikum laboratorium, kombinasi faktor tersebut dapat menurunkan fokus belajar, mempercepat kelelahan, serta mengurangi produktivitas akademik apabila tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, strategi kesehatan selama Ramadhan perlu diarahkan pada tiga pilar utama:

  1. Manajemen cairan yang optimal
  2. Kualitas tidur yang cukup
  3. Asupan nutrisi fungsional yang mendukung metabolisme
    Dimasukkannya peran minuman herbal menjadi relevan.
    Mengapa Herbal Tradisional Relevan untuk Mahasiswa?
    Etnomedisin merupakan ilmu yang mempelajari penggunaan tanaman obat dalam budaya lokal memiliki posisi penting dalam pengembangan farmasi modern. Banyak senyawa aktif obat berasal dari tanaman yang awalnya digunakan secara tradisional.
    Bagi mahasiswa pada khususnya, penggunaan herbal selama Ramadhan memiliki beberapa keunggulan:
  1. Mudah Didapat dan Ekonomis
    Bahan-bahan seperti jahe, kunyit, dan serai tersedia di dapur rumah tangga atau pasar tradisional dengan harga terjangkau.
  1. Mendukung Pendekatan Preventif
    Kandungan antioksidan dan antiinflamasi membantu tubuh menghadapi stres metabolik selama puasa.
  1. Selaras dengan Nilai Kearifan Lokal
    Penggunaan herbal mencerminkan integrasi ilmu farmasi dengan budaya kesehatan Nusantara.
  1. Minim Risiko Bila Digunakan Tepat
    Dalam dosis konsumsi harian wajar, minuman herbal relatif aman bagi kesehatan individu.

    Dengan kata lain, minuman tradisional berbasis herbal bukan sekadar minuman pelengkap berbuka, tetapi sebagai bagian dari strategi menjaga kinerja akademik.

Tiga Herbal Utama Penjaga Kebugaran Ramadhan

  1. Jahe: Penopang Daya Tahan dan Kehangatan Tubuh
    Jahe dikenal luas sebagai tanaman dengan efek antiinflamasi, membantu meredakan rasa lelah, serta memberikan sensasi hangat yang nyaman setelah berbuka atau saat sahur.

Manfaat utama bagi mahasiswa:

  • Membantu mengurangi nyeri otot akibat aktivitas harian.
  • Mendukung sistem imun.
  • Memberikan efek relaksasi ringan yang membantu tidur.

Cara praktis konsumsi:

  • Rebus 2–3 cm jahe dalam 250 ml air selama ±10 menit.
  • Tambahkan madu secukupnya.
  • Minum saat sahur atau sebelum tidur.
  1. Kunyit: Antioksidan Alami Penjaga Metabolisme
    Kunyit mengandung kurkumin, senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan kuat yang berperan melindungi sel dari stres oksidatif.

    Relevansi bagi pelajar saat puasa:
  • Membantu pemulihan energi setelah aktivitas seharian.
  • Mendukung kesehatan pencernaan.
  • Berpotensi menjaga kestabilan metabolik.

Cara sederhana:

  • Rebus kunyit ±2 cm dengan air 250 ml.
  • Tambahkan sedikit asam jawa dan madu.
  • Konsumsi setelah berbuka.
  1. Serai: Relaksasi Alami dan Kualitas Tidur
    Serai memiliki aroma khas yang memberikan efek menenangkan. Kombinasi serai dan jahe sering digunakan sebagai minuman relaksasi malam.

Manfaat bagi mahasiswa:

  • Membantu tubuh lebih rileks setelah aktivitas kuliah.
  • Mendukung kualitas tidur lebih baik.
  • Memberikan efek segar tanpa kafein.

Cara konsumsi:

  • Rebus 1 batang serai dan 1–2 cm jahe dalam 300 ml air.
  • Minum pada malam hari sebelum tidur.

Waktu Terbaik Mengonsumsi Herbal Selama Ramadhan

Pengaturan waktu minum penting agar manfaat herbal optimal.

Skema sederhana yang bisa penulisa sarankan selama 24 jam:

  • Saat Berbuka : kunyit asam → pemulihan metabolik.
  • Saat Malam (setelah tarawih) : serai jahe → relaksasi & tidur.
  • Saat Sahur : wedang jahe → daya tahan sepanjang hari.

Kondisi pengaturan konsumsi minuman herbal ini bisa membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh secara bertahap.

Strategi Mahasiswa Tetap Produktif Saat Puasa

Selain konsumsi herbal, ada beberapa langkah penting agar akademik tetap optimal:

  1. Terapkan Pola Minum Terencana
    Distribusikan konsumsi air dari berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi.
  1. Prioritaskan Tidur Berkualitas
    Tidur cukup lebih berpengaruh pada konsentrasi dibandingkan menambah waktu belajar dalam kondisi lelah.
  1. Pilih Menu Berbuka Seimbang
    Hindari gula berlebih yang menyebabkan energi singkat lalu cepat turun.
  1. Atur Waktu Belajar
    Manfaatkan periode setelah sahur atau pagi hari ketika otak masih segar.
  1. Lakukan Aktivitas Fisik Ringan
    Gerakan ringan membantu menjaga kebugaran tanpa menguras energi.

Pendekatan ini menegaskan bahwa produktivitas selama bulan Ramadhan bukan soal membebani diri sendiri dengan segala aktivitas harian, tetapi bagaimana kita mengelola energi yang kita miliki secara cerdas.

 Integrasi Ilmu Farmasi dan Kearifan Lokal di Lingkungan Kampus

Pemanfaatan herbal selama bulan Ramadhan oleh mahasiswa khususnya Farmasi mencerminkan terjadinya sinergi antara:

  • Sains modern → pemahaman senyawa bioaktif yang didapatkan selama bangku kuliah. 
  • Budaya lokal → tradisi minuman herbal Nusantara warisan turun-temurun. 
  • Nilai spiritual → menjaga kesehatan sebagai bagian dari implementasi kewajiban menjalankan ibadah bagi umat muslim.

Bagi institusi pendidikan farmasi, praktik sederhana ini dapat menjadi pintu masuk pendidikan etnomedisin berbasis bukti kepada mahasiswa dan masyarakat.

Penutup: Sehat, Fokus, dan Bermakna di Bulan Suci
Ramadhan bukanlah menjadi penghalan bagi produktivitas akademik, melainkan kesempatan membangun keseimbangan antara kesehatan fisik, kejernihan mental, dan kedalaman spiritual. Melalui pemanfaatan minuman herbal sederhana yang didukung oleh pengetahuan ilmu farmasi yang dimiliki, mahasiswa diharapkan dapat menjaga kebugaran tanpa mengabaikan tuntutan kewajiban untuk kuliah maupun kualitas ibadah masing-masing individu.

Dari secangkir wedang jahe saat sahur hingga hangatnya kunyit asam saat berbuka, tersimpan pesan penting: kesehatan tidak selalu rumit, terkadang cukup kembali pada kearifan lokal yang telah lama dimiliki dan diwariskan oleh nenek moyang kita sebelumnya, lalu memahaminya dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dibangku kuliah.

Ramadhan bukan sekedar sebagai bulan menahan lapar dan haus serta menahan hawa nafsu, namun momentum menjadi lebih sehat, lebih fokus, dan lebih bermakna dan bermanfaat bagi mahasiswa.