Oleh: apt. Latifa Amalia, M.Pharm.Sci
Kulit Kusam dan Penuaan Dini, Salah Siapa?
Antioksidan Alami dan Kesehatan Kulit – Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Program Studi S1 Farmasi. “Kok wajahku cepat kusam, ya?” atau “Kenapa kerutan halus mulai muncul padahal usia masih muda?” Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika kulit terlihat lelah dan tidak secerah dulu. Salah satu “tersangka” utamanya adalah radikal bebas. Untunglah, tubuh dan alam menyediakan “pasukan pelindung” bernama antioksidan. Nah, untuk mengukur seberapa kuat sebuah bahan alam melawan radikal bebas, para peneliti farmasi sering menggunakan sebuah metode sederhana namun populer yang disebut uji DPPH.
Namun, muncul pertanyaan: apa sebenarnya DPPH itu? Mengapa nilai antioksidan sebuah ekstrak tanaman begitu sering dibicarakan dalam produk perawatan kulit? Dan seberapa besar peran antioksidan alami dalam menjaga kesehatan kulit kita?
Radikal Bebas dan Stres Oksidatif: Musuh Diam-Diam Kulit
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang “kekurangan” elektron sehingga cenderung merebut elektron dari sel-sel tubuh, termasuk sel kulit. Radikal bebas terbentuk secara alami dari proses metabolisme, tetapi jumlahnya meningkat akibat berbagai faktor, antara lain:
- Paparan sinar ultraviolet (UV) matahari;
- Polusi udara dan asap rokok;
- Stres dan kurang tidur;
- Pola makan tinggi gula dan makanan olahan;
- Paparan bahan kimia berbahaya.
Ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya, terjadilah kondisi yang disebut stres oksidatif. Pada kulit, stres oksidatif dapat merusak kolagen, mempercepat munculnya kerutan, memicu kulit kusam, flek hitam, hingga mempercepat proses penuaan dini (photoaging).
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – Radikal Bebas, Sumber dan Dampaknya bagi Kesehatan – https://www.alodokter.com/radikal-bebas-pemicu-penyakit-kronis
- Halodoc – Stres Oksidatif: Penyakit Akibat Radikal Bebas – https://www.halodoc.com/artikel/stres-oksidatif-penyakit-akibat-radikal-bebas
- Jurnal ilmiah (CDK) – Malondialdehid sebagai Penanda Stres Oksidatif pada Berbagai Penyakit Kulit – https://cdkjournal.com/index.php/cdk/article/view/13
Apa Itu Antioksidan?
Antioksidan adalah senyawa yang mampu “menyumbangkan” elektron kepada radikal bebas tanpa dirinya sendiri menjadi tidak stabil. Dengan begitu, radikal bebas menjadi jinak dan reaksi berantai yang merusak sel dapat dihentikan. Antioksidan dapat berasal dari:
- Dalam tubuh (endogen), seperti enzim superoksida dismutase (SOD) dan glutation;
- Luar tubuh (eksogen), seperti vitamin C, vitamin E, dan senyawa fenolik serta flavonoid dari tumbuhan.
Senyawa fenolik dan flavonoid inilah yang banyak terdapat pada tanaman Indonesia dan menjadi alasan mengapa banyak bahan alam berpotensi menjadi bahan aktif produk perawatan kulit.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – Antioksidan untuk Kulit, Segudang Manfaatnya – https://www.alodokter.com/antioksidan-untuk-kulit-inilah-segudang-manfaat-yang-bisa-didapatkan
- Halodoc – Berbagai Manfaat Antioksidan untuk Kesehatan Kulit – https://www.halodoc.com/artikel/berbagai-manfaat-antioksidan-untuk-kesehatan-kulit
- Jurnal ilmiah (Eur J Med Chem) – The Role of Antioxidants in the Chemistry of Oxidative Stress – https://doi.org/10.1016/j.ejmech.2015.04.040
Mengenal DPPH: “Alat Ukur” Kekuatan Antioksidan
DPPH adalah singkatan dari 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil, yaitu sebuah senyawa radikal bebas sintetis yang stabil dan berwarna ungu pekat. Metode DPPH merupakan salah satu cara paling umum, cepat, dan murah untuk menguji aktivitas antioksidan suatu bahan di laboratorium.
Cara kerjanya dapat dibayangkan secara sederhana seperti ini:
- Larutan DPPH yang berwarna ungu dicampur dengan ekstrak bahan yang diuji;
- Jika bahan tersebut mengandung antioksidan kuat, radikal DPPH akan dinetralkan dan warnanya memudar dari ungu menjadi kuning pucat;
- Semakin pudar warnanya, semakin kuat aktivitas antioksidannya.
Perubahan warna ini diukur dengan alat bernama spektrofotometer (pada panjang gelombang sekitar 517 nm), lalu dihitung persentase peredaman radikal bebasnya. Hasil akhirnya sering dinyatakan dalam nilai IC50, yaitu konsentrasi bahan yang dibutuhkan untuk meredam 50% radikal DPPH. Perlu diingat, semakin kecil nilai IC50, semakin kuat antioksidannya. Sebagai gambaran umum, aktivitas antioksidan sering dikelompokkan sangat kuat (IC50 < 50 ppm), kuat (50–100 ppm), sedang (100–150 ppm), dan lemah (> 150 ppm).
🔗 Baca lebih lanjut:
- Jurnal ilmiah (J Food Sci Technol) – Genesis and Development of DPPH Method of Antioxidant Assay – https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3551182/
- MDPI (Processes) – DPPH Radical Scavenging Assay – https://www.mdpi.com/2227-9717/11/8/2248
Mengapa Uji DPPH Penting bagi Produk Perawatan Kulit?
Klaim “kaya antioksidan” pada produk skincare atau suplemen sebaiknya tidak hanya berdasarkan kepercayaan, tetapi juga didukung data ilmiah. Di sinilah peran uji DPPH menjadi penting, karena dapat:
- Membuktikan secara objektif bahwa suatu bahan alam benar-benar memiliki aktivitas antioksidan;
- Membandingkan kekuatan antioksidan antarbahan atau antarkonsentrasi ekstrak;
- Menentukan dosis atau konsentrasi optimal untuk formulasi produk;
- Menjadi dasar ilmiah pengembangan kosmetik dan obat bahan alam yang aman dan efektif.
Dengan kata lain, uji DPPH menjadi jembatan antara kearifan lokal penggunaan tanaman dengan pembuktian ilmiah berbasis bukti (evidence-based).
🔗 Baca lebih lanjut:
- Amerigo Scientific – DPPH Assay dalam Formulasi Kosmetik & Skincare – https://www.amerigoscientific.com/dpph-assay-principle-applications-and-complete-guide.html
- Jurnal ilmiah (UNM) – Studi Literatur Analisis Antioksidan terhadap Fotoprotektif Kulit – https://journal.unm.ac.id/index.php/semnasbio/article/download/1182/727/3717
Apa Kata Penelitian? Bahan Alam Antioksidan untuk Kesehatan Kulit
- Teh Hijau (Camellia sinensis): Sang Juara Polifenol
Teh hijau kaya akan senyawa polifenol, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yang menunjukkan aktivitas peredaman radikal DPPH yang sangat kuat. Penelitian menunjukkan polifenol teh hijau membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV serta mengurangi peradangan.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – 10 Manfaat Teh Hijau untuk Kecantikan – https://www.alodokter.com/mengenal-manfaat-teh-hijau-untuk-kecantikan
- UNAIR – EGCG Topikal sebagai Bahan Alternatif Tata Laksana Penuaan Kulit – https://unair.ac.id/egcg-topikal-pada-kulit-sebagai-bahan-alternatif-pada-tata-laksana-penuaan-kulit/
- Kelor (Moringa oleifera): Daun Kaya Manfaat
Daun kelor mengandung flavonoid, vitamin C, dan beta-karoten yang berperan sebagai antioksidan. Berbagai penelitian melaporkan ekstrak daun kelor memiliki aktivitas peredaman DPPH yang baik sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif produk perawatan kulit.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – Masker Daun Kelor, Manfaat dan Cara Membuatnya – https://www.alodokter.com/masker-daun-kelor-ketahui-manfaat-dan-cara-membuatnya
- Jurnal ilmiah (Malahayati) – Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) – https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/farmasi/article/viewFile/4263/pdf
- Kunyit (Curcuma longa): Kuning yang Menjaga Kulit
Kandungan kurkumin pada kunyit dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Beberapa penelitian menunjukkan kurkumin dapat membantu memperbaiki tampilan kulit dan melawan tanda-tanda penuaan.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – 7 Manfaat Kunyit untuk Kulit yang Jarang Diketahui – https://www.alodokter.com/7-manfaat-kunyit-untuk-kulit-yang-jarang-diketahui
- Jurnal ilmiah (Phytother Res) – Effects of Turmeric (Curcuma longa) on Skin Health – https://doi.org/10.1002/ptr.5640
- Tomat (Solanum lycopersicum): Sumber Likopen
Tomat mengandung likopen, antioksidan yang memberi warna merah dan diketahui membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar matahari.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – Beberapa Makanan Tinggi Antioksidan dan Jenisnya – https://www.alodokter.com/beberapa-makanan-tinggi-antioksidan-dan-jenisnya
- Bengkuang (Pachyrhizus erosus): Pencerah Tradisional
Bengkuang secara tradisional digunakan sebagai masker pencerah kulit. Kandungan vitamin C dan senyawa fenoliknya berperan sebagai antioksidan yang membantu menghambat pembentukan melanin berlebih.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – 4 Manfaat Bengkuang untuk Wajah – https://www.alodokter.com/4-manfaat-bengkuang-untuk-wajah-yang-penting-diketahui
- Jurnal ilmiah (Syntax Literate) – Potensi Bengkuang sebagai Sumber Antioksidan Alami – https://jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/download/63991/12302/
- Antioksidan dari Dalam dan Luar: Keduanya Penting
Menjaga kesehatan kulit tidak cukup hanya dari produk yang dioleskan, tetapi juga dari asupan sehari-hari. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:
- Memperbanyak konsumsi buah dan sayur berwarna (sumber vitamin C, E, dan karotenoid);
- Menggunakan tabir surya (sunscreen) setiap hari untuk mengurangi radikal bebas akibat UV;
- Mencukupi kebutuhan air putih dan tidur yang cukup;
- Menghindari asap rokok dan paparan polusi berlebih;
- Memilih produk perawatan kulit yang kandungan antioksidannya telah teruji secara ilmiah.
🔗 Baca lebih lanjut:
- Alodokter – 7 Manfaat Sunscreen dan Pentingnya bagi Kesehatan Kulit – https://www.alodokter.com/7-manfaat-sunscreen-dan-pentingnya-bagi-kesehatan-kulit
- Siloam Hospitals – 9 Makanan Kaya Antioksidan untuk Jaga Kesehatan Tubuh – https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/makanan-kaya-antioksidan
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Tenaga Kesehatan?
Antioksidan alami sangat bermanfaat sebagai perawatan pendukung, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis. Segera konsultasikan ke dokter atau apoteker apabila:
- Muncul iritasi, kemerahan, atau alergi setelah pemakaian produk perawatan kulit;
- Terdapat flek atau tahi lalat yang berubah bentuk, warna, atau ukuran secara cepat;
- Timbul luka pada kulit yang tidak kunjung sembuh;
- Masalah kulit disertai keluhan lain yang mengganggu, seperti gatal hebat atau nyeri.
Peran Apoteker: Menjembatani Bahan Alam dan Bukti Ilmiah
Apoteker berperan penting dalam memastikan penggunaan bahan alam dan produk perawatan kulit secara aman dan rasional. Edukasi yang dapat diberikan antara lain:
- Memilih produk kosmetik dan herbal yang memiliki izin edar resmi BPOM;
- Memastikan kandungan aktif sesuai kebutuhan dan jenis kulit;
- Memberikan informasi cara pemakaian yang benar;
- Mengenali tanda bahaya yang memerlukan rujukan ke dokter;
- Mencegah penggunaan produk pemutih ilegal yang mengandung bahan berbahaya.
Dengan pendekatan ini, kekayaan bahan alam Indonesia dapat berjalan berdampingan dengan praktik kefarmasian berbasis bukti.
🔗 Cek legalitas produk: https://cekbpom.pom.go.id
QnA
- Apakah nilai antioksidan yang tinggi berarti produk pasti manjur di kulit?
Jawaban:
Belum tentu. Uji DPPH menunjukkan potensi antioksidan sebuah bahan di laboratorium, tetapi efektivitas pada kulit juga dipengaruhi oleh formulasi, konsentrasi, stabilitas bahan, dan kemampuannya menembus kulit. Karena itu diperlukan pengujian lanjutan sebelum sebuah bahan dinyatakan efektif.
- Apakah antioksidan alami lebih aman daripada yang sintetis?
Jawaban:
Tidak selalu. “Alami” tidak otomatis berarti aman. Bahan alam tetap dapat menyebabkan iritasi atau alergi pada sebagian orang. Yang terpenting adalah kandungan, konsentrasi, dan cara penggunaannya sudah teruji.
- Apakah cukup mengandalkan skincare antioksidan tanpa sunscreen?
Jawaban:
Tidak. Antioksidan membantu menetralkan radikal bebas, tetapi tabir surya tetap menjadi garda utama melindungi kulit dari sinar UV. Keduanya bekerja saling melengkapi.
- Apakah makan makanan kaya antioksidan bisa menggantikan perawatan kulit dari luar?
Jawaban:
Keduanya saling mendukung, bukan saling menggantikan. Asupan antioksidan dari makanan menjaga kulit dari dalam, sementara perawatan topikal bekerja langsung di permukaan kulit.
Referensi Ilmiah
Brand-Williams, W., Cuvelier, M. E., & Berset, C. (1995). Use of a free radical method to evaluate antioxidant activity. LWT – Food Science and Technology, 28(1), 25–30. https://doi.org/10.1016/S0023-6438(95)80008-5
Kedare, S. B., & Singh, R. P. (2011). Genesis and development of DPPH method of antioxidant assay. Journal of Food Science and Technology, 48(4), 412–422. https://doi.org/10.1007/s13197-011-0251-1
Masaki, H. (2010). Role of antioxidants in the skin: Anti-aging effects. Journal of Dermatological Science, 58(2), 85–90. https://doi.org/10.1016/j.jdermsci.2010.03.003
Pisoschi, A. M., & Pop, A. (2015). The role of antioxidants in the chemistry of oxidative stress: A review. European Journal of Medicinal Chemistry, 97, 55–74. https://doi.org/10.1016/j.ejmech.2015.04.040
OyetakinWhite, P., Tribout, H., & Baron, E. (2012). Protective mechanisms of green tea polyphenols in skin. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2012, 560682. https://doi.org/10.1155/2012/560682
Vaughn, A. R., Branum, A., & Sivamani, R. K. (2016). Effects of turmeric (Curcuma longa) on skin health: A systematic review of the clinical evidence. Phytotherapy Research, 30(8), 1243–1264. https://doi.org/10.1002/ptr.5640
Vergara-Jimenez, M., Almatrafi, M. M., & Fernandez, M. L. (2017). Bioactive components in Moringa oleifera leaves protect against chronic disease. Antioxidants, 6(4), 91. https://doi.org/10.3390/antiox6040091
Mulianto, N. (2020). Malondialdehid sebagai penanda stres oksidatif pada berbagai penyakit kulit. Cermin Dunia Kedokteran, 47(1), 39–42.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Cek produk kosmetik dan obat tradisional yang teregistrasi. https://cekbpom.pom.go.id
Info Penerimaan Mahasiswa Baru:
Jl. Brawijaya 99, Yogyakarta 55183
+62 858-1243-5474