apt. RA Dewinta Sukma Ananda, M. Biomed.
Pharmacologist & Toxicologist
Research Focuses: medication safety dan & drug-induced organ injury in Chronic Disease
Mengapa Hipertensi dan Diabetes Dapat Menurunkan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisis?
Hipertensi dan diabetes bukan sekadar penyakit penyerta. Pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, kedua kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi, memperberat beban terapi, serta menurunkan kualitas hidup. Bagaimana mekanismenya dan mengapa pengendalian komorbid menjadi sangat penting?-Prodi S1 Farmasi Universitas Alma Ata
Menjalani hemodialisis bukan satu-satunya tantangan pasien gagal ginjal
Bagi banyak pasien penyakit ginjal kronik (PGK), menjalani hemodialisis merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Terapi ini memang membantu menggantikan sebagian fungsi ginjal yang telah menurun, tetapi tidak serta-merta menghilangkan berbagai masalah kesehatan yang dialami pasien. Selain harus menjalani hemodialisis secara rutin, sebagian besar pasien juga hidup dengan penyakit penyerta, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan beban penyakit, memperbesar risiko komplikasi, dan akhirnya memengaruhi kualitas hidup pasien secara keseluruhan (1,2).
Kualitas hidup kini menjadi salah satu indikator penting dalam pelayanan pasien penyakit kronik. Keberhasilan terapi tidak hanya dinilai dari hasil pemeriksaan laboratorium atau angka harapan hidup, tetapi juga dari kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari, mengendalikan keluhan yang dirasakan, serta mempertahankan kesejahteraan fisik dan psikologis (3).
Melalui penelitian yang kami lakukan pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Indonesia, kami menemukan bahwa komorbid hipertensi maupun diabetes berkaitan dengan kualitas hidup pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan penyakit penyerta merupakan bagian penting dalam meningkatkan luaran terapi pasien hemodialisis (4,5).
Apa yang dimaksud dengan kualitas hidup?
Dalam pelayanan kesehatan, kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health-related quality of life atau HRQoL) menggambarkan bagaimana suatu penyakit memengaruhi kehidupan seseorang, baik dari aspek fisik, psikologis, maupun sosial (3).
Salah satu instrumen yang banyak digunakan untuk mengukur kualitas hidup adalah EQ-5D, yang mengevaluasi lima dimensi utama, yaitu:
* mobilitas,
* kemampuan merawat diri,
* aktivitas sehari-hari,
* nyeri atau rasa tidak nyaman,
* kecemasan atau depresi.
Melalui instrumen ini, tenaga kesehatan dapat memperoleh gambaran mengenai dampak penyakit terhadap kehidupan pasien, sehingga terapi tidak hanya berfokus pada perbaikan parameter klinis tetapi juga kesejahteraan pasien secara menyeluruh (3).
Mengapa hipertensi dapat menurunkan kualitas hidup?
Hipertensi merupakan salah satu komorbid yang paling sering ditemukan pada pasien penyakit ginjal kronik. Hubungan keduanya bersifat timbal balik. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat mempercepat kerusakan ginjal, sedangkan penurunan fungsi ginjal menyebabkan tubuh semakin sulit mengatur keseimbangan cairan dan natrium sehingga tekanan darah menjadi lebih sulit dikendalikan (6).
Kondisi tersebut meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular, pembengkakan akibat retensi cairan, sesak napas, kelelahan, hingga keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di sisi lain, pasien hipertensi umumnya memerlukan beberapa jenis obat antihipertensi sehingga regimen pengobatan menjadi lebih kompleks dan berpotensi menambah beban terapi (6,7).
Dalam penelitian kami, pasien hemodialisis dengan hipertensi menunjukkan kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan pasien tanpa hipertensi. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa pengendalian tekanan darah tidak hanya penting untuk memperlambat progresivitas penyakit ginjal, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup pasien (4).
Diabetes juga memberikan dampak yang tidak kalah besar
Selain hipertensi, diabetes melitus merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronik di berbagai negara (8). Pada pasien yang telah menjalani hemodialisis, diabetes tidak hanya memengaruhi kadar glukosa darah, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai komplikasi kronis seperti neuropati diabetik, retinopati, penyakit kardiovaskular, dan gangguan penyembuhan luka (8,9).
Komplikasi tersebut dapat membatasi aktivitas pasien, meningkatkan rasa nyeri, mengganggu kemandirian, serta memengaruhi kondisi emosional. Semakin banyak komplikasi yang dialami pasien, semakin besar kemungkinan kualitas hidupnya mengalami penurunan (2,8).
Penelitian kami juga menunjukkan bahwa pasien hemodialisis yang memiliki diabetes melitus cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan pasien tanpa diabetes. Temuan ini memperkuat pentingnya pengendalian kadar glukosa darah meskipun pasien telah memasuki tahap penyakit ginjal kronik yang memerlukan terapi hemodialisis (5).
Mengapa kualitas hidup perlu menjadi perhatian tenaga kesehatan?
Dalam beberapa dekade terakhir, pendekatan pelayanan kesehatan telah bergeser dari disease-centered care menjadi patient-centered care. Artinya, keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari parameter klinis, tetapi juga dari bagaimana pasien merasakan manfaat terapi tersebut dalam kehidupan sehari-hari (3).
Pasien dengan kualitas hidup yang baik umumnya memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, lebih patuh terhadap pengobatan, serta memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk mengikuti program terapi jangka panjang (10). Oleh karena itu, evaluasi kualitas hidup perlu menjadi bagian dari pelayanan rutin pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
Apa yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kualitas hidup?
Meskipun penyakit ginjal kronik merupakan kondisi yang bersifat progresif, kualitas hidup pasien masih dapat dipertahankan melalui pengelolaan yang komprehensif. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi:
* menjaga tekanan darah tetap terkontrol;
* mengendalikan kadar glukosa darah sesuai target terapi;
* menjalani hemodialisis secara teratur;
* mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan;
* menerapkan pola makan sesuai rekomendasi dokter dan ahli gizi;
* melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan;
* berkonsultasi secara rutin apabila muncul keluhan baru (6,8).
Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, apoteker, perawat, ahli gizi, pasien, dan keluarga diharapkan mampu membantu pasien mempertahankan kualitas hidup yang optimal selama menjalani terapi hemodialisis.
Kesimpulan
Pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya berasal dari penurunan fungsi ginjal, tetapi juga dari penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes melitus. Kedua komorbid tersebut dapat meningkatkan komplikasi, memperberat beban terapi, dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Melalui penelitian yang kami lakukan pada pasien hemodialisis di Indonesia, kami menemukan bahwa hipertensi maupun diabetes berkaitan dengan kualitas hidup pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian penyakit penyerta perlu menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik (4,5).
Frequently Asked Questions
Apakah semua pasien hemodialisis pasti memiliki hipertensi atau diabetes?
Tidak. Namun, hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit penyerta (komorbid) yang paling sering ditemukan pada pasien penyakit ginjal kronik. Bahkan, diabetes merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal ginjal kronik, sedangkan hipertensi dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal.
Mengapa hipertensi dapat menurunkan kualitas hidup pasien hemodialisis?
Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti penyakit jantung, penumpukan cairan, sesak napas, dan kelelahan. Kondisi tersebut membuat pasien lebih sulit menjalankan aktivitas sehari-hari dan sering kali memerlukan pengobatan yang lebih kompleks, sehingga kualitas hidup dapat menurun.
Bagaimana diabetes memengaruhi kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis?
Diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti kerusakan saraf (neuropati), gangguan penglihatan (retinopati), penyakit jantung, dan luka yang sulit sembuh. Komplikasi ini dapat membatasi aktivitas, meningkatkan rasa nyeri, mengurangi kemandirian, serta memengaruhi kondisi emosional pasien.
Apakah kualitas hidup pasien hemodialisis masih dapat ditingkatkan?
Ya. Meskipun penyakit ginjal kronik bersifat progresif, kualitas hidup pasien masih dapat dipertahankan melalui pengendalian tekanan darah dan gula darah, menjalani hemodialisis secara teratur, mengonsumsi obat sesuai anjuran, menerapkan pola makan yang tepat, tetap aktif sesuai kemampuan, serta melakukan kontrol rutin dengan tenaga kesehatan.
Mengapa kualitas hidup menjadi bagian penting dalam perawatan pasien penyakit ginjal kronik?
Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari hasil laboratorium atau lamanya harapan hidup, tetapi juga dari kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari, mengurangi keluhan, menjaga kesehatan mental, serta mempertahankan kesejahteraan secara fisik, psikologis, dan sosial. Oleh karena itu, evaluasi kualitas hidup menjadi bagian penting dalam pelayanan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
Q&A
Q: Apakah hemodialisis dapat menyembuhkan penyakit ginjal kronik?
A: Tidak. Hemodialisis merupakan terapi pengganti sebagian fungsi ginjal untuk membantu membuang sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari tubuh. Terapi ini membantu memperpanjang harapan hidup dan mengurangi gejala, tetapi tidak menyembuhkan penyakit ginjal kronik.
Q: Mengapa hipertensi berbahaya bagi pasien yang menjalani hemodialisis?
A: Hipertensi yang tidak terkontrol dapat mempercepat kerusakan ginjal, meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, serta menyebabkan penumpukan cairan yang memicu sesak napas dan kelelahan. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari.
Q: Apakah pasien hemodialisis masih perlu mengontrol kadar gula darah jika sudah menjalani cuci darah?
A: Ya. Pengendalian kadar gula darah tetap sangat penting karena diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti kerusakan saraf, gangguan penglihatan, penyakit jantung, dan luka yang sulit sembuh, yang semuanya dapat menurunkan kualitas hidup pasien.
Q: Apa yang dimaksud dengan kualitas hidup pada pasien penyakit ginjal kronik?
A: Kualitas hidup menggambarkan bagaimana kondisi kesehatan memengaruhi kehidupan seseorang, termasuk kemampuan bergerak, merawat diri, melakukan aktivitas sehari-hari, mengendalikan nyeri, serta menjaga kesehatan mental dan emosional.
Q: Bagaimana cara mempertahankan kualitas hidup selama menjalani hemodialisis?
A: Pasien dianjurkan menjalani hemodialisis sesuai jadwal, mengontrol tekanan darah dan gula darah, mengonsumsi obat sesuai anjuran, menerapkan pola makan yang direkomendasikan tenaga kesehatan, tetap aktif sesuai kemampuan, serta melakukan kontrol rutin dengan dokter dan tim kesehatan.
Q: Mengapa pengelolaan hipertensi dan diabetes sama pentingnya dengan hemodialisis?
A: Karena kedua penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi, memperberat beban terapi, dan menurunkan kualitas hidup. Pengendalian hipertensi dan diabetes merupakan bagian penting dari perawatan menyeluruh pasien penyakit ginjal kronik.
Q: Apa pesan utama dari penelitian ini?
A: Penelitian menunjukkan bahwa pasien hemodialisis yang memiliki hipertensi maupun diabetes cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan pasien tanpa kedua komorbid tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan penyakit penyerta harus menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik.
Info Penerimaan Mahasiswa Baru:
Jl. Brawijaya 99, Yogyakarta 55183
+62 858-1243-5474
Daftar Pustaka
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4 Suppl):S1–S150.
- Webster AC, Nagler EV, Morton RL, Masson P. Chronic kidney disease. Lancet. 2017;389(10075):1238–52.
- EuroQol Research Foundation. EQ-5D-5L User Guide: Basic Information on How to Use the EQ-5D-5L Instrument. Rotterdam: EuroQol Research Foundation; 2021.
- Ananda RDS, Kusuma AM, Pramestutie HR, et al. Hubungan hipertensi terhadap kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis menggunakan instrumen EQ-5D-3L. Pharmacy: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia). 2025;22(1):1–9.
- Ananda RDS, et al. Hubungan diabetes melitus terhadap kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis menggunakan instrumen EQ-5D-3L. Fortune Journal of Health Sciences (FJFSK). 2025;3(2):1–8.
- Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, Casey DE Jr, Collins KJ, Dennison Himmelfarb C, et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA guideline for the prevention, detection, evaluation, and management of high blood pressure in adults. Hypertension. 2018;71(6):e13–115.
- American Diabetes Association Professional Practice Committee. Standards of Care in Diabetes—2025. Diabetes Care. 2025;48(Suppl 1):S1–S350.
- Mapes DL, Lopes AA, Satayathum S, McCullough KP, Goodkin DA, Locatelli F, et al. Health-related quality of life as a predictor of mortality and hospitalization: The Dialysis Outcomes and Practice Patterns Study (DOPPS). Kidney Int. 2003;64(1):339–49.
- Bakris GL, Agarwal R, Anker SD, Pitt B, Ruilope LM, Rossing P, et al. Effect of finerenone on chronic kidney disease outcomes in type 2 diabetes. N Engl J Med. 2020;383(23):2219–29.
- Kalantar-Zadeh K, Jafar TH, Nitsch D, Neuen BL, Perkovic V. Chronic kidney disease. Lancet. 2021;398(10302):786–802.